Kita tidak punya kuasa atas semesta yang kita tempati tetapi lewat tulisan, kita bisa menciptakan semesta sendiri
Sunday, September 11, 2022
PANCASILA SAKTI TAPI SK BUPATI LEBIH SAKTI
Monday, June 21, 2021
TERUS KAPAN TUHAN DIMULIAKAN???
Dua kata ini kembali saya dengar menjelang penerimaan pegawai dan tes
masuk angkatan bersenjata Republik Indonesia, orang dalam. Selalu ada harapan dan imbalan
pada awal, proses, hingga akhirnya. Sekuat dan sedetil apa pun pemerintah
melakukan langkah pencegahan aksi nepotisme ini, selalu saja ada oknum yang
lebih upgrade dalam melakukan kecurangan. Seolah-olah sistem itu buta pada
tindakan yang tersembunyi dan diredam oleh tembok-tembok rumah warga. Saya
tidak tahu bagaimana masyarakat hidup dalam rasa percaya pada suatu individu
yang pada akhirnya akan meminta balasan yang jauh lebih besar dari yang pernah
dia berikan. Pribadi lepas pribadi adalah kesia-siaan selama 12 – 17 tahun
belajar. Keahlian hanyalah embel-embel dari setiap bisikan kecil “ini orang saya”. Apa yang ingin dibangun
dari negara ini? Kemajuan atau kekerabatan yang membutakan semua rasionalitas
pekerjaan. Seorang sarjana pertanian bekerja di dinas komunikasi dan
informatika, seorang sarjana ilmu pendidikan bekerja sebagai staf humas,
seorang sarjana teknik mesin diangkat sebagai bendahara. Saya tidak lagi hidup
dalam dunia yang ideal seperti yang dijelaskan di dalam ruang kuliah.
Orang-orang mengasihani dan memberi komentar sinis pada keputusan saya untuk
berjalan sendiri, entah itu kenekatan atau kebodohan yang saya percayai dalam
doa-doa malam.
Jika
berbicara tentang doa maka akan ada saran yang menyesatkan bahwa mungkin Tuhan
menolong saya melalui orang dalam. Benarkan demikian? Jadi Tuhan tidak menolong
orang-orang yang mengikuti aturan tetapi menggunakan orang dalam sebagai bentuk
uluran tangan-NYA?. Polisi saja tidak menilang pengendara yang tertib lalu
lintas, lalu bagaimana kita menjelaskan bahwa Tuhan bekerja melawan orang-orang
yang mengikuti aturan? Saya ingin berdiri pada tempat di mana Tuhan dimuliakan
melalui kesulitan yang saya alami dalam meraih cita-cita. Persoalan yang saya
alami cukup membuat saya goyah dan gementar bahkan menangis sendiri di malam
hari. Tuhan dimuliakan dalam persoalan tersebut. Dulu saya mendengar dan belum
percaya, sekarang saya mengalaminya dan percaya. Bahwa tak ada rencana Tuhan
yang lalai terhadap hidup saya, termasuk cita-cita saya dan keinginan untuk
mengikuti aturan main. Jika kali ini saya berhasil maka itu bukan karena
kekuasaan seseorang atau saya mengandalkan orang lain untuk menopang masa depan
tetapi karena Tuhan yang memberikannya kepada saya.
Kegagalan
pertama pada tes CPNS di tahun 2018 dimaknai oleh saya sebagai cara Tuhan agar
saya dapat merawat mama saya sebelum beliau meninggal dunia. Kegagalan kedua
saya dalam tes CPNS 2019 adalah cara Tuhan melindungi saya agar tak terjebak di
ibukota selama pandemic covid-19. Begitulah cara saya memahami maksud Tuhan
dalam kegagalan saya walaupun prosesnya cukup lambat. Saya tidak ingin
menyalahkan siapa pun atau apapun dalam kegagalan saya, karena dengan begitu
saya tahu bahwa Tuhan itu hebat karena mampu membuat saya belajar dari sebuah
kegagalan dan mengubahnya menjadi rasa syukur yang tak terbatas. Itulah alasan
saya mengapa saya tidak memerlukan orang dalam. Sok suci, mungkin kata
itu yang akan saya dapatkan dari beberapa pembaca tetapi saya tidak masalah
karena mereka yang sok berdosa akan terlihat lebih munafik dalam hal merendah hati.
Seperti
renungan keren yang terlintas di pikiran saya setelah menyelesaikan Saat Teduh :
“ pakai orang dalam itu pilihan, terserah lu. Asal jangan marah
kalo suatu saat dong (:mereka) bilang
lu tanpa dong (berakhir) jadi tai. Lu mau berhasil di mana pun tetap orang (lain) sonde (:tidak) hitung itu karena Tuhan tapi karena orang dalam. Terus kapan Tuhan bisa dimuliakan dari lu pung hidup yang singkat itu?”
Saturday, August 29, 2020
STASIUN TV TANPA HARAPAN
Thursday, May 7, 2020
COVID-19 : ADA PR BUAT PENDIDIKAN DI TIMUR INDONESIA
Siapa sangka bahwa virus yang berasal dari Wuhan akhirnya membuka
mata dunia terutama beberapa negara yang sudah terbuai dengan istilah negara
maju yang disematkan. Ketika pandemic covid-19 menyebar ke seluruh dunia,
setiap negara menganjurkan kepada warga negara atau semua orang yang berada di
negaranya untuk beraktifitas di rumah saja. Negara-negara Eropa, Amerika dan
sebagian Asia sepakat untuk melakukan lockdown dan beberapa diantaranya
melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar pada wilayah zona merah. Tak ada
yang dapat mempersiapkan diri mereka tentang apa yang mereka harus lakukan
ketika pandemic melanda negara mereka. Dan untungnya beberapa negara dengan
sigap memberikan kebijakan agar warga negaranya tak mengalami kerugian secara
ekonomi, sosial, psikologi dan lain sebagainya. Teknologi menjadi jalan
satu-satunya untuk meminimalisir kerugian yang saya sebutkan tadi. Misalnya
dalam pendidikan, agar para siswa tidak mengalami ketertinggalan dalam
pelajaran, beberapa sekolah telah melakukan pembelajaran jarak jauh atau bisa
disebut e-learning menggunakan aplikasi video conference seperti Zoom.com dan
Google Classroom, entah ini kebiasaan latah atau bukan, seketika seluruh
sekolah menengah mengharuskan semua siswanya mendownload aplikasi zoom, google
classroom, kaizala (sejenis absensi elektronik), dan lain sebagainya. Begitu
banyak yang merasa antusias dengan aplikasi tersebut tetapi setelah melakukan
proses pembelajaran tersebut ternyata melahirkan berbagai keluhan dan hambatan
yang mana diantaranya keterbatasan alat gawai dan infrastruktur teknologi atau
ketersediaan jaringan, belum ditambah lagi dengan pembelian paket kuota
internet. Benar adanya e-learning itu berhasil, tetapi hanya di kota-kota besar
seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota di pulau Jawa. Sudah berapa
kali masalah tentang ketidakmerataan pembangunan menjadi masalah tersendiri di
negara Indonesia dan sudah berapa kali kebijakan secara nasional merugikan
daerah-daerah di luar pulau Jawa. Dari polemik ujian nasional hingga e-learning
yang diterapkan.
Saya sangat prihatin
kalau semua kebijakan bersifat nasional hanya diuji keberhasilannya di pulau
Jawa, seolah-seolah Indonesia adalah Jawa. Memang suatu langkah yang baik
dengan adanya pemindahan ibukota Indonesia ke pulau Kalimantan, tetapi jangan
hanya ibukotanya saja yang berubah, tetapi pola pikirnya juga. Bagaimana bisa
membuat suatu keputusan nasional berdasarkan pengambilan sampel di tanah Jawa?
Apalagi di masa pandemik
ini, kita tidak bisa serta merta menarik kesimpulan bahwa pembelajaran
e-learning bisa diterapkan di seluruh Indonesia. Apalagi para guru-guru di
pelosok tak mungkin memaksakan para siswanya untuk melakukan e-learning,
minimal para siswa akan diminta membuat tugas tambahan untuk menambah nilai
mereka sebagai tuntutan administrasi dari dinas pendidikan yang menurut saya
sama seperti sebelum pandemic covid-19 melanda. Jalan terakhirnya beberapa guru
harus mengakali dengan memasukan nilai fiktif agar para siswanya tidak
disusahkan, tetapi ada pula guru yang patuh administrasi dan memaksa para
muridnya untuk mengerjakan tugas berupa makalah yang dibagikan melalui aplikasi
Whatsapp kemudian diketik dan diprint. Beruntung bagi siswa yang memiliki
laptop / PC dan print, mereka bisa mengerjakan tugas tersebut dari rumah.
Tetapi bagaimana dengan siswa yang tidak memiliki salah satu alat tersebut atau
bahkan kedua-duanya? Pasti mereka akan mencari warung internet (warnet)
terdekat untuk mengerjakan tugas tersebut, dan lucunya pernah ada sebuah berita
yang memberitakan bahwa saat pandemic covid-19, beberapa siswa terciduk oleh
satuan Polisi Pamong Praja sedang berada di warnet. Para siswa tersebut
dianggap menyalagunakan kebijakan belajar dari rumah dengan cara pergi ke
warnet yang notabenenya merupakan tempat yang ramai (saat mendengar berita tersebut, saya tidak menyalah para siswa melainkan
pemerintah karena telah melakukan blunder dalam penetapan kebijakan nasional di
bidang pendidikan, bukan sekali tetapi berkali-kali). Untuk menanggulangi
blunder tersebut pemerintah menggunakan TVRI sebagai saluran pendidikan secara
nasional selama masa pandemic Covid-19. Inilah yang saya sukai dari kebijakan
nasional, walaupun belum efektif tetapi dapat menjadi dasar untuk pemerataan
pembelajaran bagi para pelajar seluruh Indonesia. Apa yang dipelajari oleh
pelajar di Jawa juga dipelajari pelajar di luar pulau Jawa. Seharusnya jika
ingin melakukan e-learning, sebaiknya pilih media yang 98% digunakan seluruh
rakyat Indonesia, tetapi ada masalah baru lagi yang muncul, jika menggunakan
TVRI sebagai media pembelajaran jarak jauh, bagaimana dengan daerah yang belum
dialiri listrik? Ya menimbulkan masalah baru lagi. Di wilayah Indonesia Timur,
masih ada daerah-daerah yang belum dialiri listrik, saya juga yakin bahwa ada
pula daerah di wilayah Indonesia Barat yang bernasib sama. Oleh karena itu
dalam bidang pendidikan, setiap satuan tugas, atau dinas-dinas pendidikan di
seluruh wilayah Indonesia wajib secara transparan melaporkan kondisi pendidikan
di wilayah mereka agar saat pusat mengeluarkan kebijakan nasional akan ada pertimbangan-pertimbangan
tersendiri. Tak boleh ada kata-kata “semua aman” atau “semua beres” saat
melakukan pelaporan ke pusat. Jika pusat ingin mengeluarkan kebijakan
e-learning maka kepala dinas pendidikan yang sadar bahwa ada beberapa daerahnya
yang belum teraliri listrik, harus secara berani mengatakan keberatan dengan
e-learning dan melalui tindakan berani tersebut mungkin akan berbuah saran bagi
instansi seperti PLN untuk melakukan pembangunan di daerah tersebut.
Covid-19, tidak boleh
hanya membawa ingatan akan sebuah virus, tetapi juga suatu peringatan bahwa
negara kita masih memiliki banyak kekurangan dalam pembangunan di pelosok
Indonesia. Covid-19 juga seharusnya membuat pemerintah belajar untuk lebih peka
dan mampu mengklasifikasikan permasalahan-solusi di setiap wilayah Indonesia.
Covid-19 juga harus membuat para pelajar untuk bersuara bahwa tidak semua anak
memiliki kemampuan ekonomi yang sama dan tidak semua pelajar mampu mengikuti
kebijakan pendidikan secara nasional.
Wednesday, May 6, 2020
ANTARA TUHAN, ORANG DALAM DAN ILMU
- MEMATIKAN SEMANGAT BELAJAR
- MEMATIKAN KERJA KERAS ORANG LAIN
- MENJADI HARAPAN SESAMA
Tuesday, May 5, 2020
COVID-19 : "NEWBIE" YANG MENGGEMPARKAN
Wednesday, October 23, 2019
PENGANGGURAN MEMBLOGGING
Tuesday, October 8, 2019
Ijazah itu Penting Kalau....
![]() |
| Poster Film 3 Idiots |
Film 3 Idiots dan Ilustrasi yang saya dengar memang benar adanya, hanya saja tidak semua orang bisa menerima kebenaran tersebut
Tuesday, April 23, 2019
HIDUP DARI KENYATAAN
Saya sendiri merasa sebaiknya saya tidak usah mengantikan "peran" mama untuk adik-adik saya. Peran itu biarlah kosong, agar kami semua sadar ada bagian yang hilang dari sisa perjalanan hidup kami. Peran sebagai seorang anak sulung sudah cukup bagi saya. Tidak ingin membangun kesan "lari dari kenyataan" tetapi saya hanya ingin hidup dari sebuah kenyataan bahwa saya adalah kakak dari adik-adik saya, tidak kurang dan tidak lebih.
Tuesday, April 9, 2019
KEMALANGAN SEORANG WANITA
Thursday, March 15, 2018
CARI KERJA : pakai tuh dalam Nama Yesus, bukan pakai 'orang dalam'
Karhutla Kalimantan dari Bencana Ekologis Menjadi Ancaman Keamanan Nasional
Setiap musim kemarau, kita hampir selalu mendengar berita yang sama, yaitu kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Asap menutupi langit, se...
-
Katakanlah suatu pagi, Raja Seonjo terbangun dari tidurnya, sang raja memutuskan bahwa Yeonsan yang terkenal kejam itu sebenarnya adalah ...
-
Krisis ekologis global yang kita hadapi hari ini seperti perubahan iklim, deforestasi masif, kepunahan spesies, dan pencemaran lingkungan ...
-
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump baru saja mengeluarkan memorandum yang membuat banyak kepala negara geleng-geleng. Pada 7 Januari 2...











