Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Sunday, September 11, 2022

PANCASILA SAKTI TAPI SK BUPATI LEBIH SAKTI



Aksi Massa di Cilegon yang menolak pembangunan gedung gereja HKBP MARANATHA, gaungnya menembus pemerintah pusat. Bagaimana tidak, Kota Baja tersebut telah berkembang pesat baik secara ekonomi maupun demografis tetapi masyarakatnya masih berpikir bahwa Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Serang Nomor 189/Huk/SK1975 tanggal 28 Maret 1975 tentang penutupan gereja/tempat jemaat bagi agama Kristen dalam daerah Kabupaten Serang, bisa mengalahkan UUD 1945 atau bahkan Pancasila. Masyarakat Cilegon yang tergabung dalam Komite Penyelamat Kearifan Lokal Kota Cilegon secara tegas menolak pembangunan Gereja serta meminta dukungan walikota Cilegon dan DPRD Cilegon dalam sebuah petisi yang dibubuhi tanda tangan. Parahnya lagi oleh Walikota dan Ketua DPRD Cilegon, petisi tersebut ditanda tangani layak sebuah aksi melawan UUD 1945 pasal 29 ayat 1-2 tentang kebebasan beragama dan beribadah :

(1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya. (2) Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.


Jelas terdapat pelanggaran dalam SK Bupati Serang tersebut di tahun 1975. Lebih parah lagi pelanggaran tersebut terjadi tepat di masa pemerintahan Soeharto. Pemerintahan yang digadang-gadang sebagai pemerintahan yang mengkultuskan Pancasila. Entah pemerintah pusat yang kecolongan atau memang Presiden Soeharto menggunakan Pancasila untuk membenarkan tindakan pembungkaman terhadap oposisi. Pancasila Sakti tetapi hilang kesaktiannya di bawah SK Bupati Serang 1975. Ada pula latar belakang penolakan tersebut disebabkan oleh peristiwa berdarah tahun 1888 yang dilakukan oleh kolonial Belanda terhadap warga Cilegon. Saya mengutip dari hajiumrahnews.com

Menurut Embay Mulya Syarief, salah seorang tokoh Banten, penolakan pembangunan gereja di Cilegon didasari atas luka masa lalu, pada peristiwa Geger Cilegon tahun 1888.
Kala itu, kata Embay, ratusan ulama Cilegon menjadi korban kebengisan kolonial Belanda, mereka dibantai dengan kejam dan dibuang ke berbagai pulau di Nusantara.

Sayangnya mereka melihat itu dari segi agama bukan segi politik. Jika demikian adanya maka islam pun akan dimusuhi jika mengacu pada aksi terorisme di Indonesia. Cara berpikir seperti inilah yang membuat NKRI sangat rentan terhadap aksi pelanggaran hak beragama dan beribadah. Pada akhirnya tak ada kekerasan atas nama agama, semua hanya tentang politik dan rasa ego. Lalu kita beralih pada fungsi BPIP, seharusnya sejak badan tersebut didirikan mereka telah melakukan screening terhadap pelanggaran nilai-nilai Pancasila di pemerintahan serta penguatan nilai Pancasila, bukan malah fokus pada bagaimana caranya meniadakan nilai komunisme. Nilai Komunis akan hilang dengan sendirinya jika Pancasila menguat. Lagipula mana ada budaya dengan budaya paguyuban yang betah dibungkam? 
Jika pelanggaran UUD 1945 Pasal 29 tersebut terjadi di Indonesia Timur maka bisa kita anggap wajar karena BPIP sendiri berada jauh di Jakarta, tapi jika terjadi di Kota sekitar wilayah Jakarta maka sangat dipertanyakan kegunaan BPIP dalam melakukan screening di pemerintahan. Rakyat dipaksa hafal Pancasila tapi pejabatnya lupa nilai-nilai Pancasila.
Ketidak-pekaan masyarakat Cilegon terhadap perubahan demografi juga turut menyumbangkan pelanggaran terhadap UUD pasal 29, etnosentrime masih sangat kuat bahkan mengacu pada diskriminasi. Siapa yang dapat bertanggungjawab pada peristiwa ini? Warga Cilegon? Pemda Kota Cilegon? Kementerian Agama? Atau BPIP? 
Jika perundingan menemui jalan buntuh maka kesaktian Pancasila hanya bisa berpengaruh di Indonesia Timur dan bukan Indonesia Barat. BPIP hanya sekadar badan yang menempel pada tembok istana tanpa pernah keluar untuk menginjak kentalnya lumpur diskriminasi di luar istana. 

Monday, June 21, 2021

TERUS KAPAN TUHAN DIMULIAKAN???



Dua kata ini kembali saya dengar menjelang penerimaan pegawai dan tes masuk angkatan bersenjata Republik Indonesia, orang dalam. Selalu ada harapan dan imbalan pada awal, proses, hingga akhirnya. Sekuat dan sedetil apa pun pemerintah melakukan langkah pencegahan aksi nepotisme ini, selalu saja ada oknum yang lebih upgrade dalam melakukan kecurangan. Seolah-olah sistem itu buta pada tindakan yang tersembunyi dan diredam oleh tembok-tembok rumah warga. Saya tidak tahu bagaimana masyarakat hidup dalam rasa percaya pada suatu individu yang pada akhirnya akan meminta balasan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia berikan. Pribadi lepas pribadi adalah kesia-siaan selama 12 – 17 tahun belajar. Keahlian hanyalah embel-embel dari setiap bisikan kecil “ini orang saya”. Apa yang ingin dibangun dari negara ini? Kemajuan atau kekerabatan yang membutakan semua rasionalitas pekerjaan. Seorang sarjana pertanian bekerja di dinas komunikasi dan informatika, seorang sarjana ilmu pendidikan bekerja sebagai staf humas, seorang sarjana teknik mesin diangkat sebagai bendahara. Saya tidak lagi hidup dalam dunia yang ideal seperti yang dijelaskan di dalam ruang kuliah. Orang-orang mengasihani dan memberi komentar sinis pada keputusan saya untuk berjalan sendiri, entah itu kenekatan atau kebodohan yang saya percayai dalam doa-doa malam.

Jika berbicara tentang doa maka akan ada saran yang menyesatkan bahwa mungkin Tuhan menolong saya melalui orang dalam. Benarkan demikian? Jadi Tuhan tidak menolong orang-orang yang mengikuti aturan tetapi menggunakan orang dalam sebagai bentuk uluran tangan-NYA?. Polisi saja tidak menilang pengendara yang tertib lalu lintas, lalu bagaimana kita menjelaskan bahwa Tuhan bekerja melawan orang-orang yang mengikuti aturan? Saya ingin berdiri pada tempat di mana Tuhan dimuliakan melalui kesulitan yang saya alami dalam meraih cita-cita. Persoalan yang saya alami cukup membuat saya goyah dan gementar bahkan menangis sendiri di malam hari. Tuhan dimuliakan dalam persoalan tersebut. Dulu saya mendengar dan belum percaya, sekarang saya mengalaminya dan percaya. Bahwa tak ada rencana Tuhan yang lalai terhadap hidup saya, termasuk cita-cita saya dan keinginan untuk mengikuti aturan main. Jika kali ini saya berhasil maka itu bukan karena kekuasaan seseorang atau saya mengandalkan orang lain untuk menopang masa depan tetapi karena Tuhan yang memberikannya kepada saya.

Kegagalan pertama pada tes CPNS di tahun 2018 dimaknai oleh saya sebagai cara Tuhan agar saya dapat merawat mama saya sebelum beliau meninggal dunia. Kegagalan kedua saya dalam tes CPNS 2019 adalah cara Tuhan melindungi saya agar tak terjebak di ibukota selama pandemic covid-19. Begitulah cara saya memahami maksud Tuhan dalam kegagalan saya walaupun prosesnya cukup lambat. Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun atau apapun dalam kegagalan saya, karena dengan begitu saya tahu bahwa Tuhan itu hebat karena mampu membuat saya belajar dari sebuah kegagalan dan mengubahnya menjadi rasa syukur yang tak terbatas. Itulah alasan saya mengapa saya tidak memerlukan orang dalam. Sok suci, mungkin kata itu yang akan saya dapatkan dari beberapa pembaca tetapi saya tidak masalah karena mereka yang sok berdosa akan terlihat lebih munafik dalam hal merendah hati.

Seperti renungan keren yang terlintas di pikiran saya setelah menyelesaikan Saat Teduh :

“ pakai orang dalam itu pilihan, terserah lu. Asal jangan marah kalo suatu saat dong (:mereka) bilang lu tanpa dong (berakhir) jadi tai. Lu mau berhasil di mana pun tetap orang (lain) sonde (:tidak) hitung itu karena Tuhan tapi karena orang dalam. Terus kapan Tuhan bisa dimuliakan dari lu pung hidup yang singkat itu?”

Saturday, August 29, 2020

STASIUN TV TANPA HARAPAN

 
Entah kenapa saya Kembali lagi menceritakan sedikit peristiwa yang terjadi di sekitar saya, atau tepatnya pengalaman teman-teman saya Ketika sedang melamar kerja. Kejadian ini terjadi di tanggal 27 Agustus 2020, saat itu melalui akun grup WA salah seorang teman membagikan info lowongan kerja (loker) di salah satu stasiun tv di daerah kami, diantara 20 anggota grup, hanya 4 orang saja yang begitu antusias untuk melamar di stasiun tv tersebut, apalagi kami juga jurusan komunikasi jadi bekerja di stasiun tv merupakan hal yang kami impikan. Keesokan hari Saya diajak oleh teman saya untuk sama-sama memasukan lamaran  di stasiun TV tersebut, mengingat waktu pendaftaran dibuka selama dua hari saja. Kebetulan waktu itu, saya tidak bisa memasukan lamaran di stasiun tv tersebut karena sedang ada panggilan tes di salah satu distributor kendaraan sehingga saya merencanakan akan mengantarkan lamaran di stasiun tv pada jam 3 sore. Saat sedang menunggu antrian tes, salah seorang teman saya mengirimkan pesan bahwa saya tidak perlu repot-repot mengantarkan lamaran ke stasiun tv tersebut, karena loker itu dibuka untuk anak/saudara/kerabat dari kalangan pegawai stasiun tv. Saat menerima pesan tersdebut, saya sedikit tidak percaya sekaligus merasa kesal. Tetapi setelah mengkonfirmasikan info yang saya dapatkan ke teman saya yang lain, ternyata benar adanya bahwa loker tersebut diperuntukan untuk keluarga dari pegawai stasiun tv.
Saya pernah mendengar nepotisme terjadi di kalangan pemerintahan, di kalangan perusahaan swasta, tapi di media massa? Sesuatu yang baru saya dengar. Mungkin memang praktek nepotisme terjadi di media hiburan seperti industry film Bollywood yang beritanya sedang booming, tetapi stasiun tv? Itu Namanya bunuh diri. Bagaimana bisa mereka tanpa malu memberitakan kasus korupsi di kalangan pemerintahan kalau internal mereka melakukan nepotisme? Tidak ada hukum tertulis dan mengikat yang melarang perilaku nepotisme, karena memang itulah wujud nyata dari budaya (kata teman saya). Jika anggota keluarga/kerabat yang direkomendasikan mampu memberi perubahan yang baik dan dapat memajukan stasiun tv maka tidak ada salahnya, toh mempermudah kerja HRD dalam menyeleksi calon pegawai. Tetapi sama saja, tidak ada perubahan dari stasiun tv tersebut. Bukan rahasia umum lagi di kota kami jika stasiun tv tersebut merupakan gudangnya nepotisme, dan bukan rahasia umum lagi bahwa program-program yang dihadirkan stasiun tv tersebut tidak memiliki nilai kreativitas yang mampu bersaing dengan stasiun tv lainnya. Saya heran, katanya pernah ada pemecatan besar-besaran oleh jajaran direksi stasiun tv tersebut guna mencari talenta atau pegawai baru yang dapat merubah wajah stasiun tv tersebut menjadi lebih baik. Hanya saja itu ilusi, bukannya melakukan penyegaran malah justru mereka sedang menduplikasi kinerja buruk mereka melalui Tindakan nepotisme. 

Saya akan menceritakan tentang bagaimana stasiun tv tersebut (sebut saja stasiun Stasiun TRI biar mempermudah penjelasan).  Stasiun TRI ini memang memiliki banyak program, mulai dari berita, talk show, musik dan hiburan anak lainnya. Tetapi berhubung tv daerah maka si TRI ini hanya memiliki waktu tayang tidak lebih dari ±5 jam / hari. Jadi memang programnya harus dipadatkan, karena itu saya mulai berpikir kenapa bisa dalam waktu tayang yang singkat, TRI tidak menampilkan tayangan baru yang berbeda dan lebih kreatif. Bukan hanya isi konten programnya, tetapi juga cara cameramen dalam mengambil gambar yang terkesan tidak rapi, belum lagi audionya yang pecah entah apa yang mereka rencanakan, bahkan teman-teman saya dari konsentrasi jurnalistik mampu membuat yang lebih baik dari pada mereka (bukannya menghina tetapi itulah kenyataannya). Saya juga berpikir bagaimana TRI mampu bertahan jika mereka dilepaskan oleh Negara dan dibiarkan bertarung sendiri di ranah media massa? Tentu hancur, karena di dalam persaingan bebas, dituntut untuk menampilkan tayangan yang berkualitas seperti kreatif dalam pengemasan program. Boro-boro kreatif, audionya saja pecah-pecah seperti kaki yang kena kutu air. Entah bagaimana mereka bisa begitu percaya diri untuk menyebut diri mereka sebagai stasiun tv, jika dalam hal editing, visual dan audio mereka begitu di bawah standar televisi masa kini. 
Anda bisa mengatakan :
“Ah…! Ini tulisan sakit hati.”
“Iri? Bilang bos.”
Dan sebagainya… silahkan tulis di komentar.
Namun, jauh daripada itu saya menulis ini karena saya begitu cinta pada daerah saya, saking cintanya saya menuntut perubahan yang baik, tidak peduli seberapa susah daerah saya dilihat oleh mereka yang berada di ibukota (yang ada monasnya), saya hanya ingin agar ada satu media massa besar di NTT yang mampu merepresentasikan kemampuan orang NTT dalam mengelola media massa seperti stasiun TV.
Mungkin ada hal lain yang membuat TRI tidak berkembang selain nepotisme, tetapi itu diluar yang saya tahu… Semoga Stasiun TRI cepat tersadar dari kebodohan ini dan mampu berubah menjadi stasiun unggulan di NTT bukan karena dia satu-satunya tetapi karena dia berkualitas.

UNTUK SAYA DAN TEMAN-TEMAN SAYA, KAMI AKAN TETAP BERSEMANGAT UNTUK MENGHAPUS STATUS PENCARI KERJA KAMI

Thursday, May 7, 2020

COVID-19 : ADA PR BUAT PENDIDIKAN DI TIMUR INDONESIA


 

Siapa sangka bahwa virus yang berasal dari Wuhan akhirnya membuka mata dunia terutama beberapa negara yang sudah terbuai dengan istilah negara maju yang disematkan. Ketika pandemic covid-19 menyebar ke seluruh dunia, setiap negara menganjurkan kepada warga negara atau semua orang yang berada di negaranya untuk beraktifitas di rumah saja. Negara-negara Eropa, Amerika dan sebagian Asia sepakat untuk melakukan lockdown dan beberapa diantaranya melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar pada wilayah zona merah. Tak ada yang dapat mempersiapkan diri mereka tentang apa yang mereka harus lakukan ketika pandemic melanda negara mereka. Dan untungnya beberapa negara dengan sigap memberikan kebijakan agar warga negaranya tak mengalami kerugian secara ekonomi, sosial, psikologi dan lain sebagainya. Teknologi menjadi jalan satu-satunya untuk meminimalisir kerugian yang saya sebutkan tadi. Misalnya dalam pendidikan, agar para siswa tidak mengalami ketertinggalan dalam pelajaran, beberapa sekolah telah melakukan pembelajaran jarak jauh atau bisa disebut e-learning menggunakan aplikasi video conference seperti Zoom.com dan Google Classroom, entah ini kebiasaan latah atau bukan, seketika seluruh sekolah menengah mengharuskan semua siswanya mendownload aplikasi zoom, google classroom, kaizala (sejenis absensi elektronik), dan lain sebagainya. Begitu banyak yang merasa antusias dengan aplikasi tersebut tetapi setelah melakukan proses pembelajaran tersebut ternyata melahirkan berbagai keluhan dan hambatan yang mana diantaranya keterbatasan alat gawai dan infrastruktur teknologi atau ketersediaan jaringan, belum ditambah lagi dengan pembelian paket kuota internet. Benar adanya e-learning itu berhasil, tetapi hanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota di pulau Jawa. Sudah berapa kali masalah tentang ketidakmerataan pembangunan menjadi masalah tersendiri di negara Indonesia dan sudah berapa kali kebijakan secara nasional merugikan daerah-daerah di luar pulau Jawa. Dari polemik ujian nasional hingga e-learning yang diterapkan.

Saya sangat prihatin kalau semua kebijakan bersifat nasional hanya diuji keberhasilannya di pulau Jawa, seolah-seolah Indonesia adalah Jawa. Memang suatu langkah yang baik dengan adanya pemindahan ibukota Indonesia ke pulau Kalimantan, tetapi jangan hanya ibukotanya saja yang berubah, tetapi pola pikirnya juga. Bagaimana bisa membuat suatu keputusan nasional berdasarkan pengambilan sampel di tanah Jawa?

Apalagi di masa pandemik ini, kita tidak bisa serta merta menarik kesimpulan bahwa pembelajaran e-learning bisa diterapkan di seluruh Indonesia. Apalagi para guru-guru di pelosok tak mungkin memaksakan para siswanya untuk melakukan e-learning, minimal para siswa akan diminta membuat tugas tambahan untuk menambah nilai mereka sebagai tuntutan administrasi dari dinas pendidikan yang menurut saya sama seperti sebelum pandemic covid-19 melanda. Jalan terakhirnya beberapa guru harus mengakali dengan memasukan nilai fiktif agar para siswanya tidak disusahkan, tetapi ada pula guru yang patuh administrasi dan memaksa para muridnya untuk mengerjakan tugas berupa makalah yang dibagikan melalui aplikasi Whatsapp kemudian diketik dan diprint. Beruntung bagi siswa yang memiliki laptop / PC dan print, mereka bisa mengerjakan tugas tersebut dari rumah. Tetapi bagaimana dengan siswa yang tidak memiliki salah satu alat tersebut atau bahkan kedua-duanya? Pasti mereka akan mencari warung internet (warnet) terdekat untuk mengerjakan tugas tersebut, dan lucunya pernah ada sebuah berita yang memberitakan bahwa saat pandemic covid-19, beberapa siswa terciduk oleh satuan Polisi Pamong Praja sedang berada di warnet. Para siswa tersebut dianggap menyalagunakan kebijakan belajar dari rumah dengan cara pergi ke warnet yang notabenenya merupakan tempat yang ramai (saat mendengar berita tersebut, saya tidak menyalah para siswa melainkan pemerintah karena telah melakukan blunder dalam penetapan kebijakan nasional di bidang pendidikan, bukan sekali tetapi berkali-kali). Untuk menanggulangi blunder tersebut pemerintah menggunakan TVRI sebagai saluran pendidikan secara nasional selama masa pandemic Covid-19. Inilah yang saya sukai dari kebijakan nasional, walaupun belum efektif tetapi dapat menjadi dasar untuk pemerataan pembelajaran bagi para pelajar seluruh Indonesia. Apa yang dipelajari oleh pelajar di Jawa juga dipelajari pelajar di luar pulau Jawa. Seharusnya jika ingin melakukan e-learning, sebaiknya pilih media yang 98% digunakan seluruh rakyat Indonesia, tetapi ada masalah baru lagi yang muncul, jika menggunakan TVRI sebagai media pembelajaran jarak jauh, bagaimana dengan daerah yang belum dialiri listrik? Ya menimbulkan masalah baru lagi. Di wilayah Indonesia Timur, masih ada daerah-daerah yang belum dialiri listrik, saya juga yakin bahwa ada pula daerah di wilayah Indonesia Barat yang bernasib sama. Oleh karena itu dalam bidang pendidikan, setiap satuan tugas, atau dinas-dinas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia wajib secara transparan melaporkan kondisi pendidikan di wilayah mereka agar saat pusat mengeluarkan kebijakan nasional akan ada pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Tak boleh ada kata-kata “semua aman” atau “semua beres” saat melakukan pelaporan ke pusat. Jika pusat ingin mengeluarkan kebijakan e-learning maka kepala dinas pendidikan yang sadar bahwa ada beberapa daerahnya yang belum teraliri listrik, harus secara berani mengatakan keberatan dengan e-learning dan melalui tindakan berani tersebut mungkin akan berbuah saran bagi instansi seperti PLN untuk melakukan pembangunan di daerah tersebut.

Covid-19, tidak boleh hanya membawa ingatan akan sebuah virus, tetapi juga suatu peringatan bahwa negara kita masih memiliki banyak kekurangan dalam pembangunan di pelosok Indonesia. Covid-19 juga seharusnya membuat pemerintah belajar untuk lebih peka dan mampu mengklasifikasikan permasalahan-solusi di setiap wilayah Indonesia. Covid-19 juga harus membuat para pelajar untuk bersuara bahwa tidak semua anak memiliki kemampuan ekonomi yang sama dan tidak semua pelajar mampu mengikuti kebijakan pendidikan secara nasional.

 


Wednesday, May 6, 2020

ANTARA TUHAN, ORANG DALAM DAN ILMU





Seharusnya hari ini saya menulis tentang pengaruh covid-19 pada dunia pendidikan di wilayah Indonesia Timur, tetapi karena ada postingan tentang kampus saya dan terdapat komentar yang menurut saya membeberkan sebuah realita yang sedikit anjing ya…. Bagaimana tidak, kalangan muda saat ini terlalu menganggap remeh sebuah ilmu pengetahuan. Dilihatnya kampus sebagai ajang untuk memantapkan diri mereka untuk bekerja. Padahal tidak perlu menunggu lulus dan menjadi sarjana, jika mereka ingin bekerja, cukup berhenti kuliah dan mulai masukkan lamaran pekerjaan ke kantor-kantor atau paling tidak menerapkan cara kuliah sambil kerja. Mereka memberikan beberapa komentar yang mereka yakini sebagai kebenaran yang akurat. Manusia tak lagi memandang ilmu sebagai sesuatu yang berharga melainkan uang. Memang benar manusia membutuhkan uang tetapi jauh daripada itu ada juga membutuhkan ilmu pengetahuan agar diri anda dapat berkembang. Selama saya berkuliah, saya sadar bahwa tempat saya belajar hanyalah sebagai wadah untuk membuat saya mendapatkan ilmu yang baru, yang mungkin tak saya dapat di bangku SMA dan di lingkungan rumah saya. Saya juga sadar bahwa ilmu yang saya terima tak lebih dari potongan-potongan teori kecil (seperti kata salah seorang dosen psikologi kami, ilmu pengetahuan di seluruh dunia ini ibarat remahan roti yang dijatuhkan Tuhan, potongan terbesar masih di atas meja-NYA) yang harus saya uji di dalam kesehariannya saya. Ilmu bukanlah sesuatu yang dapat kita sederhanakan seperti uang. Nilai mata uang selalu mengalami naik turun tetapi tidak dengan ilmu pengetahuan.

Saya tak punya niat untuk membela kampus saya, tetapi saya membela sebuah proses yang dinamakan belajar dan hasil yang bernama Ilmu. Benar adanya, nama besar kampus tidaklah menjamin tetapi niat belajar mahasiswanya yang memberi pengaruh. Layaknya kualitas gereja yang menitikberatkan pada jemaatnya dan bukan gedungnya, demikian pula kampus yang menitikberatkan kualitas pada dosen dan mahasiswanya dan bukan gedungnya. Alangkah malangnya orang-orang yang berpikiran bahwa kampus adalah jaminan untuk mencari kerja, bisakah kalian berpikir “Saya kuliah dengan susah payah, ilmu yang saya dapatkan begitu tinggi. Mengapa saya harus bekerja pada orang?” Tetapi saya akui pemikiran itu terlalu ekstrem bagi mereka yang selalu memasrahkan diri pada tangan orang dalam. Layaknya kepasrahan kepada Tuhan, orang-orang yang demikian akan melakukan apapun asalkan dapat diselamatkan mata pencahariannya oleh orang dalam. Begitu banyak komentar-komentar yang meremehkan ilmu dan meninggikan “kekuasaan” orang dalam. Entah bagaimana mereka dapat menjalani hidup dengan terikat utang budi seperti itu pada orang dalam.
Salah seorang teman saya biasa memandang “orang dalam” seperti realita yang tak terelakan, dan idealism saya yang anti orang dalam sebagai sesuatu yang utopis. Bukannya saya mau mengatakan bahwa saya tidak membutuh orang lain, tetapi saya tidak membutuhkan orang lain untuk menentukan nasib mata pencaharian saya selain Tuhan. Orang lain mungkin akan mengatakan bahwa bisa saja Tuhan memakai orang dalam itu untuk memberi “berkat” pada kita. Kalau Tuhan menggunakan cara itu maka yang namanya mukjizat itu tak ada, yang namanya melampaui segala akal pun hanya sebuah bualan. Tuhan tak membutuhkan cara kotor untuk membuat Nama-Nya berdiri tegak (Tuhan itu pasti bro… Hitam ya hitam, putih ya putih. Manusialah yang abu-abu).

Orang dalam… betapa sombongnya mereka yang mengatasnamakan orang dalam, mereka sombong karena turut mematikan potensi sumber daya manusia, mereka sombong karena mematikan semangat belajar generasi muda, mereka sombong karena mematikan kerja keras seseorang, dan mereka sombong karena digantungkan harapan oleh sesama manusia.
1.      MEMATIKAN SUMBER DAYA MANUSIA
Percaya atau tidak, kemajuan sebuah negara turut serta disokong oleh sumber daya manusia, banyak negara yang percaya akan hal itu sehingga berusaha membangun jutaan fasilitas pendidikan agar rakyat memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan pada bidang tertentu bila perlu setiap warganya bekerja sesuai bidang kemampuan mereka. Dibukanya berbagai macam cabang ilmu di berbagai sekolah ditujukan agar ketika berada di dunia kerja, semua sektor pekerjaan telah berada di tangan yang tepat. Misalnya jika bisa di bidang ekonomi maka dia harus bekerja di bidang ekonomi bukan teknologi. Jika dia mahir matematika, kerjakan dia di bidang matematika, jangan di bidang peternakan. Jika dia mahir di bidang kesehatan, kerjakan dia di bidang kesehatan, jangan di bidang perbankan. Jika semua orang disiplin dalam penempatan sumber daya manusia maka semua sektor di negara ini akan berjalan secara optimal dan akan membuat sebuah peta pembagian sumber daya manusia yang jelas. Memang ini terlihat kaku tetapi ini jauh lebih terstruktur.
  • MEMATIKAN SEMANGAT BELAJAR

Ini yang paling berbahaya karena dengan menggunakan sistem orang dalam, maka generasi muda kita akan cenderung berubah menjadi orang yang malas. Tidak mau berusaha dan mudah menyerah. Salah satu cara agar generasi muda dapat berkembang adalah memastikan apa yang mereka pelajari tidak akan sia-sia ketika berada di dunia kerja. Semua orang akan menghargai ilmu yang anak-anak itu pelajari, dan anak-anak itu akan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi mengingat apa yang mereka dapatkan tak diperoleh dengan cara yang mudah melainkan melalui proses yang panjang. Sikap meremehkan ilmu didapatkan karena tak ada lapangan pekerjaan yang menghargai ilmu dan keterampilan seseorang.  
  • MEMATIKAN KERJA KERAS ORANG LAIN

Hampir mirip dengan semangat belajar, tetapi bedanya mematikan kerja keras orang lain lebih kepada pelanggaran etika, bagaimana bisa seseorang yang sudah bersusah payah mengikuti proses perekrutan dengan maksimal harus dikalahkan oleh mereka yang memiliki orang dalam (semoga Tuhan mengampuni orang dalam). Saya pernah punya pengalaman saat mendaftar di salah satu SMP Negeri terfavorit di kota saya, saat itu saya mengantri untuk mendaftar selama 5 jam lebih, setelah sampai di loket pendaftaran, saya diminta untuk melampirkan tambahan 2 lembar fotokopi ijazah SD baru bisa melanjutkan pendaftaran. Susah payah mama saya mencari tempat fotokopi dan kembali menyerahkan fotokopi, eh…. Ternyata saat pengumumuan hasil penerimaan, saya tidak lolos entah apa alasannya, padahal ada 14 (bayangkan sampai sekarang saya masih ingat jumlah mereka) pendaftar yang nilainya di bawah saya tetapi dinyatakan lolos. (ini di tahun 2007, jadi belum ada sistem zonasi). Ya, itulah jahatnya sistem orang dalam, Mereka tidak peduli, seberapa kerasnya ada berusaha, seberapa susah anda berjuang.
  •      MENJADI HARAPAN SESAMA

Kalau ini pasti kalian tahu, terkadang orang-orang yang menggunakan orang dalam sudah mulai sulit membedakan mana orang dalam dan mana Tuhan. Harapan mereka begitu tinggi, seolah-olah kehidupan mereka itu pasti ditangan orang dalam. Mereka berdoa kepada Tuhan seraya meminta orang dalam turut bekerja membantu mereka. Coba jawab ini dengan sungguh-sungguh :

Kalian sangat membutuhkan pekerjaan dan untuk dapat diterima di sebuah perusahaan, terdapat dua pilihan yang harus kalian pilih salah satunya agar dapat diterima di perusahaan tersebut. Dari kedua pilihan ini manakah yang kalian yakini 100% dapat meloloskan kalian? Jasa Orang Dalam atau Berdoa?

Menurut saya, bangsa Indonesia tidak bisa berkembang bukan karena korupsi saja, tetapi faktor Orang Dalam yang pada dasarnya turut menyumbangkan 30% kegagalan pembangunan negara. Ditambah lagi generasi muda yang mulai melanggengkan praktek orang dalam. Orang kalau dari awal sudah mendapatkan pekerjaan dengan cara yang licik, maka dia tidak akan memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan itu karena dianggapnya pekerjaan itu bisa didapatkan dengan cara yang gampang. Begitulah realita busuk di balik sistem orang dalam.


INI KOMENTAR YANG BIKIN SAYA MERINDING

Catatan : Komentarnya pakai bahasa melayu kupang.
ko : atau
snd /sonde / son : tidak
ma : tapi
juw / ju : juga
pu / pung : punya
deng : dengan







Tuesday, May 5, 2020

COVID-19 : "NEWBIE" YANG MENGGEMPARKAN


± 2 bulan, hampir seluruh rakyat Indonesia dihinggapi rasa takut akan virus COVID-19. Semuanya mulai bertindak layaknya orang yang sedang dikejar maut. Seketika semua melupakan hal-hal yang paling penting yakni untuk tidak panik. Pemerintah yang menjadi satu-satunya pengatur pun berulang kali harus melaporkan perkembangan terkini tentang kasus Covid-19. Saya sendiri sudah merasa bosan mendengarkan Covid-19, bagaimana tidak jika setiap kali membuka televisi, membaca e-newspaper, dan mendengar radio hanya covid 19 yang dibahas, tetapi ada yang lebih bosan dan tertekan dengan covid-10 dari pada saya, mereka adalah para pelajar SLTA dan SLTP. Setiap kali mengerjakan tugas online mereka selalu diminta untuk membuat makalah tentang COVID-19 dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Ternyata covid-19 tidak hanya membawa dampak buruk bagi fisik tetapi juga psikis karena tak ada satu pun ruang yang digunakan untuk membahas hal lain selain Covid-19.
Media Massa selalu menyiarkan angka-angka kematian akibat covid-19 setiap hari, tetapi tidak pernah menyiarkan angka-angka kematian akibat penyakit jantung dan laka lantas yang pada dasarnya melebihi angka kematian covid-19. Layaknya makanan dan minuman kekinian yang tren di masyarakat, Covid-19 pun berubah menjadi virus yang mematikan dan membooming di masyarakat. Adakah yang peduli dengan penggunaan masker sebelum Covid-19? Tidak ada, selain para pengguna kendaraan bermotor dan itupun kalau mereka sadar akan bahaya dari karbonmonoksida yang dihasilkan oleh kendaraan yang juga mereka pakai (Padahal tidak perlu memakai masker, cukup tak ada kendaraan maka anda tidak perlu menghirup karbon monoksida). Selain itu mengenai laka lantas, menurut data WHO di tahun 2013 terdapat 1,25 juta orang yang meninggal akibat laka lantas dan di Indonesia terdapat 27.910 orang meninggal akibat laka lantas pada tahun 2018, seharusnya WHO melarang penggunaan kendaraan atau minimal meminta negara-negara untuk mengurangi jumlah kendaraan beroda dua dan empat, tetapi tidak ada tanggapan apa pun dari WHO. Jika Covid-19 menyebar melalui kerumunan warga atau tanpa adanya social distancing, maka penyakit jantung 25% disebabkan oleh polusi udara seperti kendaraan bermotor. Lalu laka lantas disebabkan oleh tidak tertibnya pengendara motor dan mobil. Tetapi tak ada yang peduli dengan penambahan kendaraan dan disiplin berkendaraan. Hari-hari berjalan seperti biasa, jika kita membahas tentang kematian akibat jantung (2015 mencapai 17,7 juta kematian di dunia) dan laka lantas. Kita bisa katakan Covid-19 lebih menakutkan karena merupakan virus atau penyakit yang menular, tetapi bukankah dunia sudah melewati pandemi seperti wabah Justinian (menewaskan 30-50 juta orang), Black death (Menewaskan 25 juta orang), Cacar (menewaskan 20 juta orang), Kolera (Menewaskan 143 ribu orang), SARS (menewaskan 734 orang), Flu Babi (menewaskan 574.400 orang) dan Ebola (menewaskan 28.600 orang).

Begitu banyak jumlah kematian di dunia akibat kecelakaan dan Flu Babi, lalu mengapa Covid-19 yang mampu menggegerkan perekonomian dunia? Mengapa setelah adanya covid-19, pergeseran kebiasaan mulai terlihat jelas? Mengapa setelah adanya covid-19 tingkat depresi semakin meningkat? Apa hebatnya virus ini sampai membuat semuanya berubah? Menurut saya, satu-satunya kehebatan virus ini adalah penyebaran ketakutan dan kepanikan. Media massa sering mengatakan bahwa warga tidak perlu panik, tetapi setiap hari hanya ada informasi covid-19. Sekolah-sekolah meliburkan anak-anak untuk mencegah penularan covid-19, tetapi justru menimbulkan masalah baru yakni depresi para pelajar akibat pemberian tugas yang pada akhirnya membuat mereka harus keluar rumah untuk menyelesaikan tugas sekolah mereka. Atau keterbatasan infrastruktur teknologi dan keterbatasan alat gawai yang dimiliki para siswa tetapi tetap dipaksakan untuk mengikuti regulasi dari pusat untuk melakukan pembelajaran via online. Lalu media massa melanggengkan slogan seperti ini “work from home” Padahal ada  banyak pekerjaan dan profesi yang tidak dapat dilakukan dari rumah.

Bukannya ingin bermain dengan angka-angka kematian, tetapi Covid-19 sudah terlalu menghancurkan kehidupan masyarakat Indonesia yang setiap hari dijejalkan akan ketakutan akan covid-19. Seharusnya Media massa mengatur intensitas informasi mengenai penayangan covid-19. Berapa banyak orang yang di PHK akibat rasa takut akan covid-19 dan berapa orang yang harus menahan lapar mereka karena covid-19. Saya pun tahu pemerintah tak mungkin sanggup memberi makan sekian juta rakyat selama berbulan-bulan. Tak mungkin pula mendata secara akurat mana warga yang layak mendapatkan bantuan dan mana yang tidak. Saya pun tak bisa menyalahkan pemerintah sepenuhnya dalam pengambilan keputusan mengenai penyebaran virus ini tetapi jika bisa (hanya saran) batasi intensitas berita mengenai covid-19 di semua media massa, mengingat informasi yang disiarkan secara berlebihan hanya akan menimbulkan kepanikan warga. Setelah covid-19, saya mulai memikirkan beberapa hal penting yang terlewatkan oleh media massa, yaitu :
1.      Covid-19 tidak lebih berbahaya dari penyakit jatung, Ebola, HIV/AIDS, dan kanker tetapi mampu melumpuhkan ekonomi dunia.
2.      Sekolah-sekolah meliburkan para siswanya tetapi tetap memberikan tugas yang lebih berat sehingga tak jarang membuat beberapa siswa harus keluar rumah untuk menyelesaikan tugas tersebut.
3.      Anjuran work from home, padahal sebagian besar rakyat Indonesia memiliki pekerjaan yang mengharuskan mereka berada di luar rumah (memang pemerintah ada program untuk mengupah mereka, tetapi ini masalah data akurat)
4.      Media massa mengatakan jangan panic tetapi terus menerus menayangkan covid-19.
5.      Tidak perlu terlalu banyak mencontoh kebijakan negara luar dalam menangani penyebaran covid-19, karena kita beda budaya, beda teknologi dan beda mata pencahariannya. Segala sesuatu harus dikembalikan pada keadaan demografi dan infrastruktur dalam negeri.



Wednesday, October 23, 2019

PENGANGGURAN MEMBLOGGING


Pengangguran. Istilah ini yang sering disematkan kepada orang-orang yang belum atau tidak bekerja. Kriteria bekerja yang pada umumnya (menurut orang-orang tua) merujuk pada suatu kegiatan yang menghasilkan uang entah itu per jam, per hari, per minggu, atau per bulan (jadi bisa dikatakan, blogger seperti saya masuk dalam kriteria pengangguran karena bekerja tanpa dibayar). Istilah pengangguran menurut gajimu.com adalah angkatan kerja yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, sedang menunggu proyek pekerjaan yang layak (jika menurut pengertian ini, maka saya bukan pengangguran). Masih menurut gajimu.com , pengangguran dibagi menjadi tiga macam yakni :
Pengangguran terbuka, yaitu angkatan kerja yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan. Biasanya ini dikarenakan belum ada lapangan pekerjaan atau memang si pencari kerjanya yang malas mencari.
Pengangguran terselubung, yaitu pengangguran yang terjadi karena terlalu banyak tenaga kerja untuk satu jenis pekerjaan atau saya sebut dengan istilah pemakan gaji buta.
Setengah menganggur, kalau ini saya contohkan seperti buruh bangunan yang bisa dikatakan hanya bekerja jika ada pekerjaan konstruksi yang ditawarkan.

ADA LOWONGAN PEKERJAAN
Terlepas dari kegiatan saya sebagai seorang blogger, saya masuk dalam kriteria pengangguran terbuka. Alasan saya belum bekerja dikarenakan lapangan kerja yang ada di kota saya, belum banyak menerima lulusan dari bidang studi yang saya ambil. Anda mungkin mengatakan bahwa saya terlalu “berdrama” dengan keadaan sebagai seorang pengangguran tetapi ini adalah sebuah kenyataan, bahwa lapangan pekerjaan saat ini lebih terbuka pada beberapa bidang saja. Memang kita dipermudah dengan dilepaskannya “sekat” bidang studi lulusan dalam penerimaan tenaga kerja (menerima pelamar dari semua jurusan) tetapi…. Ada tetapinya, Biasanya ada syarat lain yang utama, yakni memiliki penampilan menarik dan tinggi badan minimal-maksimal. Sekali lagi jika anda hanya sekilas memikirkan ini maka anda akan berpikir bahwa TIDAK ADA YANG SALAH. 
Ya…. tidak ada yang salah, tetapi kriteria penampilan menarik ini biasanya begitu subjektif (kriteria menarik menurut saya dan orang lain itu berbeda). Seperti pada postingan saya sebelumnya tentang standar kecantikan dan standar ketampanan, ternyata ada begitu banyak kriteria yang pada dasarnya diletakan pada bentuk fisik. 
Melamar kerja di bidang marketing dan perbankan tak ayal seperti sedang mengikuti ajang kecantikan dan ketampanan. Sedangkan selembar ijazah hanyalah sebuah pendukung untuk diterima secara administrasi. 

ALASAN SAYA MENGANGGUR
Saya yang berkulit hitam dan berambut keriting memilih menganggur pada saat ini dikarena lapangan pekerjaan yang tersedia hanya ada di bidang marketing dan perbankan. Jika mau mencari uang saja, maka saya akan membeli obat pemutih kulit dan melakukan smoothing pada rambut saya. Tetapi, saya lelah melakukan hal seperti ini sejak berada di bangku sekolah menengah pertama. Saya terlalu banyak menolak jati diri saya demi penerimaan lingkungan saya. Menurut seorang kenalan, saya ini terlalu pemilih dalam mencari pekerjaan. Sayangnya dia tidak tahu bahwa lapangan pekerjaan yang tersedia saat justru menuntut saya untuk merubah jati diri atau identitas fisik saya.  Atau mungkin saya yang terlalu terobsesi pada kata-kata motivasi guru bahasa Inggris saya waktu di SMP, “Buat dirimu menjadi diri yang berkualitas, agar bukan kamu yang mencari uang tetapi uang mencari kamu.” Sejak saat itu saya belajar dengan tekun dan mempelajari hal-hal yang tidak banyak dipelajari oleh teman-teman saya agar memunculkan sisi unik yang berkualitas dari diri saya. Inilah yang menjadi salah satu alasan saya untuk lebih mengasah otak saya ketimbang memoles wajah saya semasa sekolah. Setelah saya menjadi seorang sarjana dan mencari kerja, saya dikejutkan pada kenyataan bahwa di kota ini fisik masih menjadi kriteria utama dalam mencari kerja, terutama tinggi badan saya yang dipengaruhi faktor genetik (sesuatu yang tidak bisa saya rubah,kecuali jika Tuhan mau mencetak ulang saya)

MENGANGGUR ITU MENGHASILKAN
Sebagai seorang penggangguran terdidik, saya berusaha agar kegiatan menganggur saya bisa bermanfaat bagi diri saya dan orang lain. Saya mengisi waktu menganggur dengan mencari pekerjaan, bertanya tentang alasan lamaran pekerjaan saya tidak diterima, memikirkan cara lain untuk bekerja, dan menulis hasil pikiran saya di blog ini. Menganggur itu sia-sia jika saya hanya duduk dan tertawa dengan hal-hal yang tidak penting. Saya berusaha agar masa menganggur saya digunakan sebagai masa mempersiapkan diri menjadi lebih baik sebagai calon pekerja.

Tuesday, October 8, 2019

Ijazah itu Penting Kalau....


Kemarin saya mendengarkan sebuah ilustrasi yang diberikan oleh salah satu pimpinan institusi pendidikan di Kota Kupang dalam sebuah acara pelepasan wisudawan. Biar sekadar ilustrasi tapi cukup membuat kita memikirkan ilustrasi tersebut dengan hati-hati.

“Ada sebuah ilustrasi. Di sebuah kampus sedang melaksanakan acara wisuda, setelah mewisudakan para mahasiswanya, Rektor dari kampus tersebut menyiapkan sebuah kuali yang berisikan arang membara dan ditaruhnya di tengah-tengah ruang wisuda. Para Wisudawan yang telah memegang ijazah mereka, diminta untuk membuang ijazah tersebut ke dalam kuali yang berisikan arang yang membara. Hal ini dilakukan oleh Rektor sebagai suatu pelajaran bahwa selembar kertas itu tidak berarti selain ilmu yang dimiliki oleh para wisudawan. Kuliah bukan untuk mengejar selembar kertas semata tetapi mengejar ilmu pengetahuan itulah yang terpenting.” Kira-kira seperti itulah ilustrasi yang dijabarkan

Saat mendengarkan ilustrasi tersebut, saya langsung tertawa karena mengingat film 3 Idiots. 
Poster Film 3 Idiots

Ilustrasi yang diberikan tak ayal hampir mirip dengan dialog-dialog satir yang terdapat dalam film 3 Idiots. Film 3 Idiots menceritakan tentang 3 orang mahasiswa yang berkuliah di Imperial College of Engineering (semacam Institusi Pendidikan Teknik/Politeknik). Farhan Qureshi (R. Madhavan), Raju Rastogi (Sharman Joshi), dan Rachondas Shamaldas Chanchand (Aamir Khan). Ketiganya mempunyai beban tersendiri yang mereka pikul saat masuk ke Kampus ICE. Farhan harus mewujudkan impian orang tuanya dengan cara menjadi seorang insinyur teknik, alih-alih menjadi insinyur teknik, Farhan justru memendam cita-citanya sebagai Fotografer. Raju yang mempunyai cita-cita sebagai insinyur justru terjebak dalam tanggungjawabnya sebagai anak lelaki di keluarganya, karena dia harus lulus dengan nilai yang tinggi agar mendapat pekerjaan dengan gaji yang tinggi pula, dengan demikian derajat keluarganya dapat terangkat (beban Raju yang paling berat menurut saya karena tekanan keluarga lebih berpengaruh dari pada tekanan sosial). Lalu, Rancho merupakan anak dari seorang pengusaha kaya di daerah Shimla, secara sosial dan ekonomi Rancho tidak mendapatkan tekanan karena dia tertarik belajar teknik dan berasal dari keluarga kaya raya. Namun, di antara ketiga orang tersebut, Rancho yang lebih banyak mengajarkan Raju dan Farhan tentang apa itu makna hidup melalui pendidikan. Rancho yang dikenal oleh Farhan dan Raju selama bertahun-tahun ternyata bukanlah Rancho si anak kaya raya melainkan seorang anak yatim piatu yang diasuh oleh pengusaha kaya raya. Masuknya Rancho ke ICE hanya sekadar untuk menambah ilmu pengetahuan, bukan untuk selembar ijazah. Ijazah yang dia terima justru untuk diberikan kepada anak kandung dari orang tua asuhnya. Rancho yang dikenal oleh Raju dan Farhan, memiliki nama asli yakni Phunsukh Wangdu, sedangkan nama Ranchodas Shamaldas Chanchand adalah nama anak kadung dari orang tua asuh “Rancho”/ Phunsukh Wangdu. Jadi otomatis, ijazah yang didapatkan oleh si Phunsukh Wangdu itu tidak berguna bagi dirinya sendiri tetapi berguna bagi anak kandung dari orang tua asuhnya. Pencarian terhadap si Phunsukh Wangdu terhenti di daerah Ladakh perbatasan Asia Selatan dan Asia Timur. Sahabat mereka, Phunsukh Wangdu ternyata telah menjadi guru sekaligus seorang ilmuwan yang diincar-incar oleh perusahaan teknologi, tanpa selembar ijazah Phunsukh Wangdu mampu menarik perhatian perusahaan  teknologi asal Jepang. Setelah mendapatkan fakta tersebut Farhan dan Raju mulai menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan dibandingkan selembar kertas yang disebut ijazah. 

Berhubungan dengan ijazah, dialog film 3 Idiots inilah yang membuat saya tertawa :
“Hari ini, rasa hormatku makin bertambah pada si idiot Rancho. Kami semua kuliah hanya untuk mendapatkan ijazah. Tanpa ijazah, kami tidak akan bisa bekerja. Tanpa bekerja, tak akan ada ayah mana pun yang mau menikahkan anaknya. Bank tidak akan memberikan kredit. Dunia tidak akan memandang kami. Tapi si idiot yang satu itu, dia ke kampus bukan untuk ijazah, tapi untuk belajar. Dia tidak peduli jadi juara satu atau terakhir.” 

Bagi kalian yang belum menonton film 3 idiots, saya sarankan agar bisa menonton film ini karena cukup menggambarkan kehidupan kampus yang tak jarang membuat kita tertekan di tambah lagi tekanan sosial yang melihat ijazah dan gelar itu sangat penting. Sehingga tak jarang para mahasiswa diperlakukan seperti mesin untuk mengejar nilai akademik.

Nilai moral dari film 3 Idiots memang mirip dengan nilai moral ilustrasi yang diberikan di dalam acara pelepasan calon wisudawan. Bahwa ijazah itu hanya selembar kertas, tetapi sayangnya selembar kertas itu sangat berarti ketika kita hendak melamar kerja. Seperti kita yang ketahui bahwa banyak lapangan pekerjaan yang mengharuskan para pelamar untuk memiliki “selembar kertas” tersebut. “Selembar kertas” itu tidak akan berarti jika kita sendirilah yang membuka lapangan pekerjaan tersebut. Tetapi jika kita ingin bekerja pada orang lain atau sebagai bawahan maka jangan bermimpi untuk membakar “selembar kertas” tersebut.

Jangan pula mengatakan, Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Michael Dell dan Bill Gates adalah bukti bahwa ijazah itu tidak penting karena pada dasarnya mereka memang belum sempat mendapatkan ijazah / di drop out dari universitasnya akibat jarang mengikuti kuliah dan berfokus untuk mengembangkan penelitian di luar kegiatan kampus. Mereka membuktikan bahwa pendidikan/belajar itu proses seumur hidup bukan hasil (Kata dosen filsafat komunikasi saya). Jadi, sebisa mungkin hindari keempat nama tersebut ketika ingin mengisi pidato atau kata sambutan dalam acara wisudawan. 

Pada akhirnya inilah kesimpulan yang saya dapatkan :
Ijazah itu penting kalau anda sudah lulus
Ijazah itu tidak penting jika anda belum lulus
Ijazah itu penting jika anda ingin bekerja pada orang
Ijazah itu tak penting jika anda sendirilah yang membuka lapangan pekerjaan
Nilai ijazah bergantung pada situasi
Tapi nilai pengetahuan itu tak pernah bergantung pada situasi

Film 3 Idiots dan Ilustrasi yang saya dengar memang benar adanya, hanya saja tidak semua orang bisa menerima kebenaran tersebut 

Tuesday, April 23, 2019

HIDUP DARI KENYATAAN

Setelah mama meninggal, banyak orang yang mengatakan "kamu harus bisa menjadi (peran) mama bagi adik-adikmu". Terdengar mengharukan, bahkan tak jarang saya menangis jika mengingat kata-kata itu. Bukan karena kata-kata itu memiliki kekuatan untuk menguatkan hati saya, justru saya membayangkan beban berat yang akan saya pikul di masa yang akan datang. Secara (tekanan) sosial, menjadi seorang kakak (sulung) mempunyai beban tersendiri yang secara psikologis hanya dia sendiri yang mampu memikulnya (jika sudah diajarkan sejak kecil oleh lingkungan keluarga), jika ditambah menjadi seorang ibu/mama, entah berapa banyak beban yang harus dia pikul.
Saya sendiri merasa sebaiknya saya tidak usah mengantikan "peran" mama untuk adik-adik saya. Peran itu biarlah kosong, agar kami semua sadar ada bagian yang hilang dari sisa perjalanan hidup kami. Peran sebagai seorang anak sulung sudah cukup bagi saya. Tidak ingin membangun kesan "lari dari kenyataan" tetapi saya hanya ingin hidup dari sebuah kenyataan bahwa saya adalah kakak dari adik-adik saya, tidak kurang dan tidak lebih.

Tuesday, April 9, 2019

KEMALANGAN SEORANG WANITA


Ada seorang remaja putri, dia seorang anak yatim. Bersama ibu dan saudarinya, mereka membesarkan dan merawat adik laki-lakinya. Remaja putri itu memilih merantau ke kota untuk bersekolah. Sekolah guru dipilihnya, untuk melanjutkan profesi ayahnya yang seorang guru. Dia adalah orang yang sangat keras kepala. Prinsipnya tak jarang membuat dia harus berperang dengan kebutuhannya sendiri. Setelah lulus dan menjadi seorang pegawai negeri, dia selalu berusaha menyanggupi kebutuhan keluarga. Tak peduli dengan dirinya sendiri. Dia menghabiskan waktunya yang cukup lama untuk membiayai sekolah adik bungsunya. Si adik akan melanjutkan sekolah ke luar provinsi, dan dia mendukungnya. Tak peduli jika nanti ia akan menyerahkan seluruh gajinya sebagai seorang guru di daerah terpencil kepada adiknya. Tak jarang juga beras dia kirim, entah untuk siapa dan untuk apa. Dia terlalu banyak berusaha membahagiakan keluarganya, dan sayangnya dia terlalu bangga akan hal itu. Dia lupa bahwa setelah membahagiakan keluarga, dia juga harus membahagiakan dirinya. Si adik akhirnya lulus dan meraih gelar sarjana, wanita itu pun berpikir untuk mulai mencari pasangan hidup di usia yang hampir menginjak kepala empat, usia yang cukup beresiko untuk seorang wanita memulai membina rumah tangga. Sekali lagi dia hanya memikirkan tentang keluarganya bahkan saat mencari pasangan hidupnya.
Ketika memacari seorang pria yang baik dan mapan, dia berharap agar pria itu tidak hanya mencintainya tetapi memiliki kepedulian tinggi terhadap keluarga calon istrinya. Sayang disayang, kepedulian itu dia ukur dari sebungkus rokok yang tidak dibawa oleh sang pacar ke rumah pamannya, alangkah lucunya penilaian itu. Wanita itu mengakhiri hubungan dengan pacarnya yang mapan. Dia kemudian mencari yang pasangan lain yang dianggap akan memperdulikan keluarga wanita tersebut. Wanita itu akhirnya menemukan seorang  pria yang dianggap memenuhi kriterianya, tanpa memperdulikan kehidupan pribadi pria tersebut yang sering menghambur-hamburkan uang, wanita itu mulai memantapkan hatinya untuk membangun rumah tangga yang dia idam-idamkan. Bahkan mungkin Tuhan sudah menegurnya untuk tidak memilih pria itu, melalui pertentangan-pertentangan keluarga. Ibunya tak menaruh simpati terhadap calon suami, bahkan tahu bahwa anaknya perempuannya akan mengalami penderitaan jika diperistri oleh pria tersebut. Tetapi wanita itu menutup telinganya mendengar saran dan larangan sang ibu, bahkan wanita tersebut mengatakan ibunya tidak tahu apa-apa tentang memilih pria yang mapan dan mempedulikan keluarga. Dia tidak paham tentang maksud ibunya sendiri, yang menginginkan dia mendapatkan pasangan yang benar-benar menyanyangi dan menghargai dirinya sebagai seorang istri, tidak peduli jika dia tidak memperhatikan keluarga anaknya, asalkan anaknya bahagia (Itulah yang selalu dipikirkan seorang ibu, kebahagiaan anaknya dan bukan keluarga besar)
Setelah menikah, apa wanita mendapatkan kenyataan pahit, bahwa benar perkiraan ibunya. Suaminya bukan orang yang bisa diajak untuk berumah tangga. Malu dengan ibunya sendiri, dia memutuskan untuk terus melanjutkan rumah tangga yang sebenarnya bukan rumah tangga. Suami berlaku seperti tak punya beban banyak untuk menafkahi anak-istrinya karena istrinya sendiri adalah seorang pegawai negeri. Tak peduli jika beras mereka habis, karena toh istrinya yang mengatur. Bahkan tak jarang dia harus meminjam beras kepada tetangganya (Seperti rumah tangga orang yang tak bekerja). Tak dibaginya dengan keluarga sendiri rasa malu itu, adik yang dia sekolahkan pun tak pernah tahu kemalangan sang kakak karena disimpan sendiri.
Namun jauh sebelum itu, dia sudah memiliki firasat bahwa dia akan mengalami kehidupan yang penuh ironi melalui kelahiran anak pertamanya. Sang suami tak disampingnya saat dia berjuang hidup dan mati. Selain itu, saat anaknya sakit, suaminya lari dan meninggalkan istrinya yang harus menanggung malu karena tidak memiliki uang untuk melunasi biaya pengobatan (gaji sang istri ditahan karena tidak mengajar selama 2 bulan). Agar bisa diizinkan pulang sang istri, merelakan semua bajunya ditahan sebagai jaminan rumah sakit. Dia hanya membawa pulang anak pertamanya dan termos kecil yang dia pinjam dari pamannya dengan berjalan kaki dan tanpa sepeser uang pun. Sambil menenteng termos dan menggendong bayinya, dia tahu bahwa dirinya akan bersahabat dengan kemalangan dan rasa malu sepanjang hidup.




Masa mudanya dihabiskan untuk kerja keras demi kebanggaan, di masa tuanya dia masih bekerja keras dan menanggung banyak kemalangan dan rasa malu

Thursday, March 15, 2018

CARI KERJA : pakai tuh dalam Nama Yesus, bukan pakai 'orang dalam'

Dua hari yang lalu, saya menemani mama pergi melayat ke rumah tetangga yang sedang berduka. Saat kami sedang duduk selayaknya para pelayat, salah seorang tetanggaku menanyakan tentang kelulusanku sebagai seorang sarjana. Dia bertanya apakah saya sudah mengajukan lamaran pekerjaan, dan saya menjawab belum. Dia menyarankan saya untuk mengajukan lamaran ke salah satu kantor yang berkaitan dengan jurusan yang saya ambil semasa berkuliah. Katanya di sana banyak menerima tenaga honorer, apa lagi jika saya mempunyai ‘orang dalam’. Istilah ‘orang dalam’ memang tidak lagi asing bagi saya, hanya saja masih terasa lucu bagi saya jika mendengar ada orang yang masih menggunakan jalur ‘orang dalam’ dan mempercayakan masa depannya sendiri kepada si ‘orang dalam’ tadi.
Sejak SMP, saya dendam dengan istilah ‘orang dalam’, saya merasa dicurangi oleh orang-orang tersebut. Saya bahkan melarang adik-adik saya agar tidak meggunakan jalur curang seperti itu. Tetapi, saya bersyukur dengan rasa dendam itu, saya menjadi orang yang mempercayakan masa depan saya 100% kepada TUHAN YESUS. Kebanggaan akan pengalaman di masa lalu, keberhasilan di masa ini, dan harapan di masa depan saya menjadi begitu indah. Jika saya menceritakan kesaksiaan ini kepada orang lain, saya seperti pemenang di dalam pengharapan kepada TUHAN YESUS. Ketenangan yang saya dapatkan di dalam keberhasilan saya, membuat saya teringat pada firman Tuhan :
28marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu, 29Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Matius 11:28-29)
Dan sekali lagi, jika ada orang yang menertawakan prinsip saya dan mengatakan mustahil untuk mendapatkan keberhasilan tanpa melalui ‘orang dalam’ maka biarlah firman Tuhan yang berbicara :
Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka : “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”(Matius 14:27)
 

Karhutla Kalimantan dari Bencana Ekologis Menjadi Ancaman Keamanan Nasional

Setiap musim kemarau, kita hampir selalu mendengar berita yang sama, yaitu kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Asap menutupi langit, se...