Posts

Showing posts with the label Review

TRUMP MERAJUK, EROPA MEMBUJUK

Image
  Presiden Amerika Serikat, Donald Trump baru saja mengeluarkan memorandum yang membuat banyak kepala negara geleng-geleng. Pada 7 Januari 2026, Trump secara resmi menandatangani penarikan Amerika Serikat dari 66 organisasi internasional, 31 entitas di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan 35 organisasi non-PBB. Keputusan ini bukan sekadar drama politik biasa, melainkan seperti orang terpandang yang tiba-tiba memutuskan untuk tidak lagi membayar iuran di klub eksklusifnya, lalu meninggalkan anggota lain kebingungan mencari cara menambal lubang anggaran. Memorandum tersebut berangkat dari Perintah Eksekutif 14199 yang dikeluarkan Trump pada 4 Februari 2025, yang pada dasarnya menginstruksikan Menteri Luar Negeri untuk meninjau semua organisasi internasional yang diikuti Amerika Serikat. Hasilnya? Gedung Putih menyimpulkan bahwa puluhan lembaga tersebut dianggap mempromosikan "kebijakan iklim radikal, tata kelola global, serta agenda ideologis yang bertentangan dengan kedaulatan dan ...

Paradoks Populisme dan Meritokrasi dalam Keterwakilan Rakyat

Image
Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa politisi yang paling populer tidak selalu yang paling kompeten? Atau mengapa calon yang memiliki rekam jejak cemerlang justru kalah dari yang pandai berkampanye? Indonesia menghadapi dilema fundamental dalam sistem keterwakilan politik yang tercermin melalui kontradiksi antara populisme dan meritokrasi. Di satu sisi, demokrasi menuntut responsivitas terhadap kehendak mayoritas rakyat, tetapi di sisi lain, efektivitas pemerintahan memerlukan kompetensi teknis yang tidak selalu sejalan dengan preferensi massa. Kontradiksi ini bukan sekadar isu politik semata, melainkan refleksi dari kompleksitas psikologi sosial masyarakat Indonesia yang berlapis-lapis. Meritokrasi adalah sistem atau filosofi sosial yang didasarkan pada prinsip bahwa kekuasaan atau posisi sosial harus diberikan kepada individu berdasarkan kemampuan, prestasi, dan kompetensi yang dapat diukur secara objektif. Sebaliknya, populisme dalam politik adalah gerakan yang mewakili suara rak...

Mengapa Pola Konflik Politik di Indonesia Selalu Terulang?

Image
Pernah tidak kalian dianggap ketinggalan zaman karena suka belajar sejarah? Katanya, "Untuk apa belajar sejarah, toh zaman terus berubah." Memang benar manusia terus berkembang dan berubah, tetapi ada hal mendasar yang selalu sama yakni naluri manusia untuk berkuasa. Sejarah bukan cuma catatan masa lalu yang membosankan, tetapi lebih seperti laboratorium yang menunjukkan bagaimana manusia berperilaku dalam situasi tertentu. Terutama kalau kita bicara konflik politik di Indonesia, pola-pola yang terjadi di masa lalu bisa jadi petunjuk untuk memahami apa yang mungkin terjadi di masa depan. Coba kita lihat dua peristiwa besar dalam sejarah Indonesia seperti Demonstrasi Massa 1966 dan Reformasi 1998. Meski terjadi dengan jarak 32 tahun, keduanya punya pola yang mengejutkan mirip. Seperti menonton film remake, ceritanya sama tetapi aktornya beda. Kedua peristiwa ini dimulai dari krisis ekonomi yang bikin rakyat susah, mahasiswa turun ke jalan sebagai "suara hati nurani,"...

MEDIA MASSA : Lebih dari Sekadar Kebebasan

Image
Ini bermula dari komentar saya terhadap postingan story teman mempertanyakan tentang kebebasan dan media massa. Media massa sesuatu yang saya pelajari selama 4.5 tahun di bangku kuliah. begitu lamanya belajar saya mulai paham bahwa rakyat tak bisa selamanya percaya pada media massa terutama yang berkaitan dengan sosial dan politik. Bisa saja kita mengatakan bahwa kita mempunyai berbagai pilihan media massa sehingga tidak perlu takut jika suatu saat kita digiring oleh media massa terutama dalam pembentukan opini, tetapi jika kita benar-benar jeli dalam melihat setiap isi berita media massa maka kita akan menemukan satu kesamaan diantara pilihan-pilihan tersebut, yakni anda harus mempunyai cara pandang yang sama dengan media yang anda tonton. Jika media massa bilang “sesuatu” itu baik maka anda pun harus meyakini bahwa “sesuatu” itu baik Bukannya saya ingin mengatakan bahwa kita harus berhenti percaya pada media massa, mengingat di masa ini informasi menjadi salah satu kebutuhan p...

JOKER : Mitos Orang Baik yang Tersakiti

Image
FILM JOKER (2019) Film Joker belakangan ini banyak menjadi perbincangan yang beredar di media sosial seperti twitter dan facebook. Film yang mengisahkan tentang kehidupan awal dari musuh utama Batman, banyak mendapatkan pujian karena berhasil menggambarkan seseorang menderita gangguan kejiwaa. Tokoh Joker dengan nama mula-mula Arthur Fleck ini harus bertahan di dalam kehidupan masa kecilnya yang selalu disiksa oleh ayah tirinya. Ditambah lagi dengan kehidupannya setelah dewasa yang harus menerima cemoohan sosial dari orang-orang di sekitarnya. Satu-satunya orang yang membuat dia merasa seperti seorang manusia, hanyalah ibunya sendiri. Arthur Fleck sendiri memiliki beberapa gangguan kejiwaan seperti halusinasi dan masalah tawa patologis, inilah yang menjadi bibit terbentuknya karakter Joker di dalam diri Arthur Fleck selain kehidupannya yang termarjinalkan.. ORANG JAHAT ADALAH ORANG BAIK YANG SELALU TERSAKITI Sejak kecil saya selalu bersimpati pada karakter Protagonis atau pa...

Mau Tahu Film Pertamanya Suzzanna dan Aminah Tjendrakasih (Nyak Si Doel)? Ini Ulasannya!

Image
Jika kalian penggemar film tempo doeloe alias film hitam putih, kalian pasti tidak asing dengan film Asrama Dara tahun 1958, karya Usmar Ismail yang juga merupakan sutradara film Tiga Dara (1956). Sebenarnya saya sendiri bukan penggila berat film hitam putih, tetapi film Asrama Dara seperti mempunyai keunggulan tersendiri bagi saya yang tidak kalah saing dengan film Ada Apa Dengan   Cinta / AADC. Bahkan membuat saya bertanya-tanya tentang siapakah yang menjadi tokoh utama di dalam film Asrama Dara, karena hampir semua pemain memiliki cerita yang menarik untuk ditonton. Bahkan ada beberapa pemain yang terlihat begitu imut, maklum saya senang melihat pemain film yang memiliki wajah imut, bahasa kerennya unyu-unyu. Mengenai tema cerita, film ini mengangkat tentang kehidupan para gadis remaja penghuni Asrama Dara yang memiliki cerita tentang perjuangan dalam menggapai cita-cita, cinta, dan kasih sayang orang tua yang utuh. Ditambah lagi ibu asrama yang super cerewet (kadan...

Review Film HICHKI : Guru yang menginspirasi

Image
Satu lagi film buatan Bollywood yang memberi inspirasi baru bagi saya setelah film 3 Idiots dan Dangal. Sama seperti film 3 Idiots yang mengkritik sistem pendidikan yang memberi pelabelan pada pintar-bodoh pada para siswa, demikian pula film HICHKI yang dirilis di bulan Maret 2018, bedanya di film ini anda akan melihat bagaimana seorang guru yang menderita sindrom tourette dapat menaikan rasa percaya diri anak-anaknya yang sudah terlanjur mendapatkan pelabelan anak nakal dan bodoh di lingkungan sekolah mereka, St. Notker School. Film HICHKI juga diputar di Shanghai Internasional Film Festival dan masuk ke dalam kategori Film terlaris di India. Ditambah lagi film ini menjadi film asing yang paling banyak ditonton di Republik Rakyat China. Film HICHKI juga menampilkan akting aktris dan aktor yang menakjubkan. Ada Rani Mukherjee yang berperan sebagai Naina Mathur, seorang guru yang memiliki sindrom tourette, Shiv Kumar Subramaniam yang berperan sebagai kepala sekolah St. Not...