Posts

Showing posts with the label Poems

Batas Ego Raja : Pelajaran Teopolitik dari Kepemimpinan Saul

Image
Sejarah bangsa-bangsa kerap berulang bukan karena manusia tak belajar, melainkan karena godaan kekuasaan selalu hadir dalam rupa yang sama, yakni urgensi situasi, rasa tidak aman, dan keyakinan bahwa aturan dapat dikesampingkan demi tujuan yang lebih besar. Kepemimpinan Saul bin Kish, raja pertama Israel yang memerintah sekitar abad ke-11 sebelum Masehi, menawarkan studi kasus yang mengejutkan relevansinya dengan dinamika pemerintahan kontemporer. Tulisan ini bukan merupakan opini reflektif semata tetapi juga bersandar pada kajian pustaka terhadap beberapa tulisan atau karya akademik yang berkaitan dengan teopolitik dan studi kepemimpinan (Mtech Access, 2023). Melalui pendekatan tersebut, tulisan ini akan memberikan bahasan singkat tentang bagaimana seorang pemimpin yang secara karismatik dan administratif mumpuni dapat runtuh akibat satu cacat fundamental, yaitu ketidakmampuan menghormati batas-batas wewenangnya sendiri. Saul, Arsitek Negara yang Sering Terlupakan  Ada ironi besar...

TRUMP MERAJUK, EROPA MEMBUJUK

Image
  Presiden Amerika Serikat, Donald Trump baru saja mengeluarkan memorandum yang membuat banyak kepala negara geleng-geleng. Pada 7 Januari 2026, Trump secara resmi menandatangani penarikan Amerika Serikat dari 66 organisasi internasional, 31 entitas di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan 35 organisasi non-PBB. Keputusan ini bukan sekadar drama politik biasa, melainkan seperti orang terpandang yang tiba-tiba memutuskan untuk tidak lagi membayar iuran di klub eksklusifnya, lalu meninggalkan anggota lain kebingungan mencari cara menambal lubang anggaran. Memorandum tersebut berangkat dari Perintah Eksekutif 14199 yang dikeluarkan Trump pada 4 Februari 2025, yang pada dasarnya menginstruksikan Menteri Luar Negeri untuk meninjau semua organisasi internasional yang diikuti Amerika Serikat. Hasilnya? Gedung Putih menyimpulkan bahwa puluhan lembaga tersebut dianggap mempromosikan "kebijakan iklim radikal, tata kelola global, serta agenda ideologis yang bertentangan dengan kedaulatan dan ...

Paradoks Populisme dan Meritokrasi dalam Keterwakilan Rakyat

Image
Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa politisi yang paling populer tidak selalu yang paling kompeten? Atau mengapa calon yang memiliki rekam jejak cemerlang justru kalah dari yang pandai berkampanye? Indonesia menghadapi dilema fundamental dalam sistem keterwakilan politik yang tercermin melalui kontradiksi antara populisme dan meritokrasi. Di satu sisi, demokrasi menuntut responsivitas terhadap kehendak mayoritas rakyat, tetapi di sisi lain, efektivitas pemerintahan memerlukan kompetensi teknis yang tidak selalu sejalan dengan preferensi massa. Kontradiksi ini bukan sekadar isu politik semata, melainkan refleksi dari kompleksitas psikologi sosial masyarakat Indonesia yang berlapis-lapis. Meritokrasi adalah sistem atau filosofi sosial yang didasarkan pada prinsip bahwa kekuasaan atau posisi sosial harus diberikan kepada individu berdasarkan kemampuan, prestasi, dan kompetensi yang dapat diukur secara objektif. Sebaliknya, populisme dalam politik adalah gerakan yang mewakili suara rak...

Jiwa Lain

Image
Wahai jiwa yang suram Tinggallah sebentar Wahai hati tetaplah bertahan pada kegusaranmu Biarlah rasa amarah itu hidup Karena ketulusan tak memberi apa pun Kita mungkin sedang berperang Menikam ejekan orang Memanah rasa sakit sendiri Aku tak ingin tertawa bila sakit Tak ingin menangis bila bahagia Aku tak mampu memilih topeng kebahagiaan Dunia tak akan mau menerima rengekan anak kecil Barisan doaku seperti anak manja yang merasa Tuhanlah yang berutang padaku Tak bisa kuharapkan yang lebih dari pada ini Tak apa jika berontak Tak apa jika egois Jika mereka boleh Mengapa aku harus menahannya? (DefiSZ)

Bersenandika

Diriku... Bukan! Jiwaku... Bukan! Siapapun kamu Di dalam aku Semoga kau mau bertahan Jangan menyerah Jangan pula hilang Berikan sedikit waktu padaku 'Tuk pergi ke tempat baru Tanpa kepalsuan Kau bisa menjadi dirimu Dan aku bisa beristirahat Ya, kita terjebak Pada waktu yang salah Dan tempat yang buruk Bertolong-tolonglah kita Hidup ini kita bagi dua Aku yang berperasaan Kau yang berpikir Kita ini satu Di mata mereka Tetapi kita ini dua Dan tak bisa menyatu

Hari yang tak akrab

Aku benci pada malam Yang hadirkan sepi Aku bosan pada waktu Yang bermain di lingkaran Aku pun tak akrab pada pagi Yang membawaku pada pertarungan Jika aku terjebak Maka tak ada lain langkahku Selain melangkah layaknya Abram

Sekadar kata

Terperangkap dalam rangkaian kata dengan makna yang tak dapat menangkapmu Dalam masa lalu Aku tak berharap ini adalah jembatan Tak pula rasa yang berbalas Hanya sejenak mengingatmu Ya... aku kini dan kamu yang lampau

TERJEBAK

Image
Lima tahun yang lalu Pertama kali aku melihatmu Dua tahun yang lalu Terakhir kali aku melihatmu Dua jam yang lalu kau masih terlihat sama Seperti lima tahun yang lalu Kau yang barkaos putih Dengan senyuman manis Walau senyum itu bukan untukku Duduk sebaris di sore hari Dipisahkan oleh empat manusia Yang kukenal sebagai senior Sesekali aku  membungkukkan badan Berpura mengikat tali sepatu Untuk melihat tertawa lepasmu Sampai hari ini kutanda gedung di ujung jalan Gedung yang membuatku sadar Telah terjebak dalam kekaguman Saat menjadi juniormu

KAU

Image
kesedihan selalu memayungimu dari hujan kebahagiaan egomu menegaskannya kau itu rapuh kau tak dilahirkan dengan kekuatan super kau tak bisa memikul semua keluh kesah kau itu sendiri dalam beban kau bisa menolak benalu kau bisa melawan ketidakadilanmu kau terlalu rela menjadi bodoh serakah pada jerih lelahmu memberikan makan semua mulut tetapi lupa mengisi perut sendiri Kau bahagia ketika semua berbahagia Memotong sedikit demi sedikit bagian dari dirimu Ya, Kau yang telah berkarib dengan sunyi

Insomnia

Image
Masih tengah malam Masih tenang diri ini berdiam Berkali-kali mengundang rasa kantuk Datanglah lebih rajin biar menolak sakit kemarin 1, 2, 3, 4 Rasa kantuk belum merapat 5, 6, 7, 8 Mataku masih belum terlelap 9, 10, 11 Masih terjaga walau sudah beralas Mungkin saya asing dengan siang hari Dan akrab pada kesunyian malam Yang menenangkan diri Dan menyiksa segala daya pikir

SUNYI

Image
Betapa indahnya sunyi itu Dia menenangkan bagi kepedihan Setiap amarah tak mampu berakar Tangisan tak lagi beralasan Sunyi bukan tentang bunyi yang tersembunyi Sunyi bercerita tentang meniadakan Setiap tawa kepalsuan Tangisan yang menyedihkan Aku tak ingin bersembunyi Aku hanya ingin menghilang Tak ingin mengingat dan diingat Biar tak akan ada kata "Dia pernah ada"

Orasi dari Alun-alun

Siapa mewakili apa? Apa mewakili siapa? Mereka bilang mereka itu kalian Dan kalian menolaknya Kalian bilang kalian itu mereka Dan mereka harus menerimanya Jika bisa bercerita pada Gie Dia bisa merasa jijik Nasi yang sudah terlempar di pasir Dihidangkan lagi dalam jamuan besar Kalian yang berpengalaman Mereka hanya anak ingusan Yang mengajarkan orasi di alun-alun

KESOMBONGAN

Image
Kesombongan yang pekat Melekat pada setiap lidah Dia hanya kepahitan dari ketulusan Tak bisa terjahit di bibir manusia Keyakinan bersatu pada tulang belulang Begitu kuat tuk menopang Sesumbar-sesumbar yang tersebar Kebenaran tak lahir dari perdebatan Kebenaran hanya sampai pada kebenaran Tak lebih dari sekadar remah-remah Jika Tuhan mau... Jika Tuhan mau Ditaruh-Nya sebongkah kebenaran Di setiap lidah manusia Dan sesadar-sadarnya Tuhan Dia tahu ciptaan-Nya lemah Akan satu kebenaran yang utuh Bahkan malaikat bisa sombong Dari kebenaran yang utuh

BUNGKAM

Image
Kau meniadakan sesuatu Yang berjasa pada akalmu Kau mengadakan sesuatu Yang mengorbankan esensimu Tetaplah di dalam kesunyianmu Menguburkan setiap perbedaan Remukan tulang-tulang keberanian Tabur abunya di tumpukan buku Berpura-puralah santai Buang semua kebanggaan ini Akan diskusi-diskusi Pemikiranmu bukan hakmu lagi

Di Kota ku

Image
Kotaku yang sederhana Kotaku yang tak pusing urusan kota lain Kotaku yang santai Tak ribut urusan politik asalkan aman Harga sembako naik? Dapur tetap mengepul Jalanan rusak? Kecepatan motor tetap tinggi Kemarau melanda? Cari cara biar pesan tangki Lima ribu liter cukup untuk tiga rumah Siapa peduli hal kecil? Hidup bukanlah beban di Kotaku Televisi yang memberikan bencana Harga minyak seliter naik, itu bencana Musim kemarau melanda, itu bencana Jalanan rusak, itu bencana Kotaku terlalu gengsi Mungkin terlalu mandiri Atau terlalu banyak mengalah Dan tak terbiasa bersuara

Tentang Hari Ini

Image
Harapan tak pernah lebih indah Dari setiap kemustahilan Yang terwujud di depan mata Ini bukan tentang hari esok Yang kita rancangkan Ini hanya tentang hari ini Tentang mampukah kita bertahan? Kau berbicara pada pengkhayal Yang tak bersahabat pada realita Kepahitan hanyalah mimpi Manisnya kehidupan itulah realita baginya

Ayat-Mu di Facebook

Image
Tuhan, kecewakah Engkau? Jika hari ini tak ada umatmu yang beribadah Tuhan, marahkah Engkau? Jika anak kecil bermain dengan ayat suci-Mu Kubaca setiap hari kitab-Mu Tak sampai pada perenungan Mungkin karena kelelahan seharian Mendebatkan maksud Firman-Mu di Facebook Status facebook silih berganti Dikutip oleh mereka, ayat-Mu Ya... Ayat-Mu jadi kutipan status facebook Mungkin dapat mewakili suasana hati mereka Senang, bersyukur, sedih, marah sampai kasmaran A.....! saya lupa, terkadang dipakai untuk menyindir Tuhan.... Jangan lelah untuk memaafkan kebodohan kami yang terpelihara dengan baik Tuhan, Engkau pun tahu... Secuil dari umat-Mu masih belajar, mencari tahu kesalahan mereka, memperbaiki kesalahan, membiasakan diri terdidik dalam kebenaran Dari Kitab Suci-Mu

JIKA NANTI, AKU AKAN BERSYUKUR

Image
Jika nanti punya uang banyak Kita ke Yerusalem Biar mama bisa ziarah Pergi ke Betlehem Biar mama bisa rayakan natal di sana Kita tamatkan rasa rindu Pada via dolorosa Berteduh di bawah pepohonan getsemani Dengan membawa sedikit minyak narwastu Belum sampai permulaan Mama berlari terlalu jauh Mungkin saya terlalu lama menjanjikannya Mimpi yang berakhir sebagai bualan Jika nanti kita bertemu di sana Semoga tak ada satu memoriku tentang mama yang terhapus Jika kita harus berjalan berjauhan di keramaian Tak peduli Tuhan menghapus memorimu tentangku dan menghentikanku di depan pintu Aku akan tetap bersyukur Bisa melihatmu dari kejauhan memasuki Yerusalem Baru

Durhaka

Image
Bajingan itu ada padaku Aku yakin, dia sedang mengendap Keluar perlahan-lahan Untuk memupuk kehancuran Durhaka, kata Perjanjian Lama Balasan, kata Perjanjian Baru Pemimpin bilang saya durhaka Padahal tak sepenuhnya ia ikuti Perjanjian Lama Saya bukan penafsir kitab Saya hanya terbiasa membacanya Saya temukan sesuatu yang pasti Pohon yang baik bisa saja berbuah busuk Apalagi pohon yang buruk Jika meminta anak seperti Ishak Berlakulah seperti Abraham

Habibie : Hidup oleh Cinta

Image
Matahari membenamkan diri Membawa jiwa kembali Ke tempat yang sunyi Tuk bersama sang pemilik hati Kematian tak lagi menakutkan Ditunggunya hingga sore kemarin Bukan menyerah, bukan berhenti Hanya menerima kepastian waktu Sudah dia tulis mimpinya Di langit tanah air sendiri Bersama cinta yang menguatkannya Kepergiannya begitu indah... bagi mereka yang percaya cinta sejati Dia meninggalkan kenangan Tentang cinta pada tanah air Cinta pada setiap impian yang diperjuangkan Dan arti cinta sejati pada kekasih SELAMAT JALAN BAPAK DIRGANTARA INDONESIA✈