Posts

Showing posts with the label History

Batas Ego Raja : Pelajaran Teopolitik dari Kepemimpinan Saul

Image
Sejarah bangsa-bangsa kerap berulang bukan karena manusia tak belajar, melainkan karena godaan kekuasaan selalu hadir dalam rupa yang sama, yakni urgensi situasi, rasa tidak aman, dan keyakinan bahwa aturan dapat dikesampingkan demi tujuan yang lebih besar. Kepemimpinan Saul bin Kish, raja pertama Israel yang memerintah sekitar abad ke-11 sebelum Masehi, menawarkan studi kasus yang mengejutkan relevansinya dengan dinamika pemerintahan kontemporer. Tulisan ini bukan merupakan opini reflektif semata tetapi juga bersandar pada kajian pustaka terhadap beberapa tulisan atau karya akademik yang berkaitan dengan teopolitik dan studi kepemimpinan (Mtech Access, 2023). Melalui pendekatan tersebut, tulisan ini akan memberikan bahasan singkat tentang bagaimana seorang pemimpin yang secara karismatik dan administratif mumpuni dapat runtuh akibat satu cacat fundamental, yaitu ketidakmampuan menghormati batas-batas wewenangnya sendiri. Saul, Arsitek Negara yang Sering Terlupakan  Ada ironi besar...

Perempuan di Dalam Evolusi Peran

Image
Transformasi peran perempuan dalam masyarakat sepanjang lintas sejarah merupakan salah satu perubahan sosial yang paling signifikan dalam peradaban manusia. Pandangan bahwa perempuan seharusnya terbatas pada peran domestik dan tidak boleh bekerja di ranah publik telah mengalami pergeseran makna yang fundamental. Sebagaimana yang telah disinggung, pada masa lampau kondisi kehidupan dan keterbatasan fasilitas penunjang memang menjadi faktor yang membatasi mobilitas perempuan. Zaman dahulu, ketika berburu menjadi sarana utama memperoleh makanan, perempuan memang jarang dilibatkan karena berbagai keterbatasan fisik dan biologis, termasuk menstruasi yang dapat mempengaruhi kemampuan berburu jarak jauh. Namun seiring perkembangan zaman, teknologi, dan fasilitas pendukung yang semakin memadai, batasan-batasan tersebut kini telah jauh berkurang, bahkan sebagian besar telah teratasi. Peradaban manusia telah bergerak maju dengan laju yang pesat. Dalam konteks evolusi peran gender, kita menyaksik...

RA KUTI : PENGKHIANAT LOYALIS (BAGIAN I)

Image
  PELARIAN “Sudah lebih dari seminggu, pasukan Ra Kuti tidak melonggarkan penjagaan di ibukota. Kita tidak mungkin membiarkannya berlama-lama. Rakyat bisa saja tak percaya lagi pada kekuasaan raja.” Bisik seorang prajurit kepada Gajah Mada. Seusai mendengarkan kegelisahaan hati prajuritnya, Gajah Mada kemudian memalingkan wajahnya ke tenda raja yang dikelilingi oleh para penjaga disertai oleh keluar masuknya pelayan tabib membawa ramuan untuk mengobati sakit raja Jayanegara yang kian memburuk. “Tidak disangka inilah harga yang harus dibayar oleh kita kepada para Dharmaputra. Tak layak bagiku untuk menghunuskan pedang kepada pada pendiri kerajaan ini. Suatu makar pula   jika aku tak berhadapan dengan mereka.” Gajah Mada melanjutkan langkahnya menuju Dyah Gitarja yang sedang berkumpul dengan para panglima untuk mengatur strategi merebut kembali ibukota dari Ra Kuti. Tenda Siasat lebih dipenuhi oleh para panglima pria dan seorang gadis yang merupakan adik tiri raja jaya...

MEDIA MASSA : Lebih dari Sekadar Kebebasan

Image
Ini bermula dari komentar saya terhadap postingan story teman mempertanyakan tentang kebebasan dan media massa. Media massa sesuatu yang saya pelajari selama 4.5 tahun di bangku kuliah. begitu lamanya belajar saya mulai paham bahwa rakyat tak bisa selamanya percaya pada media massa terutama yang berkaitan dengan sosial dan politik. Bisa saja kita mengatakan bahwa kita mempunyai berbagai pilihan media massa sehingga tidak perlu takut jika suatu saat kita digiring oleh media massa terutama dalam pembentukan opini, tetapi jika kita benar-benar jeli dalam melihat setiap isi berita media massa maka kita akan menemukan satu kesamaan diantara pilihan-pilihan tersebut, yakni anda harus mempunyai cara pandang yang sama dengan media yang anda tonton. Jika media massa bilang “sesuatu” itu baik maka anda pun harus meyakini bahwa “sesuatu” itu baik Bukannya saya ingin mengatakan bahwa kita harus berhenti percaya pada media massa, mengingat di masa ini informasi menjadi salah satu kebutuhan p...

SASTRA ANGKATAN ’66 : IDEOLOGI DAN SENI

Image
Sewaktu SMA, tepatnya kelas di XII Bahasa, saya mempelajari tentang periodesasi sastra. Saya begitu tertarik dengan sastra angkatan ’45 dan angkatan ’66, entah mengapa kedua periodesasi sastra tersebut menarik perhatian saya, tetapi dalam mempelajarinya saya tidak menemukan adanya hal menarik selain sastra yang bermakna perjuangan. Saya tak pernah membayangkan bahwa di dalam dunia sastra terdapat perang ideologi terutama di tahun 1955-1966. Sastra Angkatan ’66 cenderung menampilkan sastrawan Taufiq Ismail sebagai pelopornya, dan itu juga diajarkan di kelas Bahasa. Ada pula pengetahuan yang hilang tentang periodisasi sastra di antara tahun 1945 dan 1966, yakni sastra angkatan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), mungkin ini diakibatkan oleh peristiwa G 30 S yang pada akhirnya merambat pada hilangnya beberapa informasi tentang sastra angkatan Lekra. Saya tidak bisa berspekulasi tentang alasan  dihilangkannya informasi tersebut, tetapi yang jelas nama Lekra hilang dari buku pelajar...

MILITER & DIPLOMASI : Tempatmu Bukan Tempat Pelarianku

Image
Sekitar 4 hari yang lalu, saya melihat sebuah artikel yang dibagikan melalui facebook. Judulnya tidak begitu menarik karena hanya berkutat pada perselisihan pendapat antar mahasiswa tentang demo di Jakarta seminggu yang lalu. Hanya saja selayang pandang, mata saya membaca sebuah komentar yang membuat saya “gemes” setengah mati (ingin rasanya aku menonjok di hp ku sendiri). Komentar ini juga membuat saya teringat pada lembaran-lembaran buku 30 Tahun Indonesia Merdeka dan 50 Tahun Indonesia Merdeka (buku ini sebenarnya ingin dibuang oleh pihak sekolah, kemudian diminta oleh mama dan diberikan kepada saya sebagai hadiah ulang tahun). Oh ya saya akan urutkan jalan pemikiran saya supaya tidak amburadul Isi Artikel Artikel itu pada intinya berisi tentang kritikan terhadap seorang mahasiswa yang tidak ikut berdemo tapi aktif menghadiri undangan diskusi di salah satu televisi swasta Indonesia . Herannya si penulis artikel justru menggiring opini publik dengan menggunakan kalimat seo...

G 30 S : NILAI YANG TERSIRAT

Image
30 september 2019 tepat peringatan peristiwa G 30 S, Genaplah 54 tahun lamanya bangsa ini memperingati pecahnya perang ideologi yang terwakili oleh Tentara Nasional Indonesia/TNI (Pancasila) dan Partai Komunis Indonesia/PKI (Komunis). Penculikan dan Pembunuhan terhadap anggota TNI dan Polri telah menarik pelatuk pembunuhan massal di seluruh Indonesia. PENCULIKAN DAN PEMBUNUHAN PARA PETINGGI ANGKATAN DARAT Pernahkah kalian menonton film Pengkhianatan G 30 S/PKI? Jika pernah, tentunya kalian sudah tahu bagaimana para Jenderal TNI Angkatan Darat diculik dan dibunuh oleh Pasukan Tjakrabirawa. Dari antara 6 Jenderal dan satu perwira pertama, tiga jenderal dibunuh di rumah mereka sendiri (Jenderal anumerta Ahmad Yani, Letjen anumerta M.T. Haryono, dan Mayjen anumerta D.I. Pandjaitan). Sisanya disiksa dan dibunuh kemudian di daerah Lubang Buaya. Pasti ada beberapa orang yang berpendapat bahwa kisah penyiksaan dan pembunuhan di Lubang Buaya tidak dapat diyakini kebenarannya melal...