Posts

Showing posts with the label Sejarah

Batas Ego Raja : Pelajaran Teopolitik dari Kepemimpinan Saul

Image
Sejarah bangsa-bangsa kerap berulang bukan karena manusia tak belajar, melainkan karena godaan kekuasaan selalu hadir dalam rupa yang sama, yakni urgensi situasi, rasa tidak aman, dan keyakinan bahwa aturan dapat dikesampingkan demi tujuan yang lebih besar. Kepemimpinan Saul bin Kish, raja pertama Israel yang memerintah sekitar abad ke-11 sebelum Masehi, menawarkan studi kasus yang mengejutkan relevansinya dengan dinamika pemerintahan kontemporer. Tulisan ini bukan merupakan opini reflektif semata tetapi juga bersandar pada kajian pustaka terhadap beberapa tulisan atau karya akademik yang berkaitan dengan teopolitik dan studi kepemimpinan (Mtech Access, 2023). Melalui pendekatan tersebut, tulisan ini akan memberikan bahasan singkat tentang bagaimana seorang pemimpin yang secara karismatik dan administratif mumpuni dapat runtuh akibat satu cacat fundamental, yaitu ketidakmampuan menghormati batas-batas wewenangnya sendiri. Saul, Arsitek Negara yang Sering Terlupakan  Ada ironi besar...

Peran Ibu Negara Di Antara Tradisi dan Risiko Institusional

Image
Kemarin tak sengaja saya melihat sebuah video yang menarik di beranda instagram. Video tersebut berasal dari salah seorang influencer media sosial, intinya dia ingin agar para ibu negara atau istri pejabat turut andil dalam memberikan masukkan pada keputusan para suami yang mana mereka merupakan para pembuat keputusan. Berdasarkan opini influencer ini, karena sisi feminim tidak terasa dalam pengambilan keputusan atau kebijakan sehingga rakyat menjadi korban. Mungkin ada benarnya yang disampaikan mengingat beberapa ibu negara juga memberikan pengaruh besar pada masa kepemimpinan suaminya, sebagai contoh Eleanor Roosevelt atau Ibu Tien Soeharto. Pengaruh mereka cukup memberikan andil pada peningkatan kualitas sosial perempuan pada masanya akan tetapi praktik ini tidak sepenuhnya memberikan manfaat karena ada beberapa sisi negatif terutama dalam praktik perumusan kebijakan yang demokratis.  Maka dari itu opini influencer tersebut memantik saya untuk menuliskan opini ini karena cukup p...

Ketika Kekayaan Alam Menjadi Kutukan bagi Pendidikan

Image
Pernahkah kamu memperhatikan fenomena yang tampak paradoksal yang mana daerah-daerah kaya akan sumber daya alam justru cenderung memiliki tingkat pendidikan yang rendah? Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah pola sistemik yang telah lama mengakar dalam dinamika pembangunan Indonesia, khususnya di wilayah timur negeri ini. Ketika Pendidikan Menjadi "Ancaman" bagi Pembangunan Ekstraktif Ada sebuah fenomena pembangunan yang mungkin jarang diperbincangkan atau dihindari karena sensitifitasnya. Bahkan dalam sebuah focus group discussion (FGD) yang saya ikuti dengan pemateri seorang peneliti sosial dari universitas tertentu yang sengaja tidak saya sebut karena rekomendasi mereka tampak tidak berpihak pada rakyat dengan mengungkapkan realitas yang menggelisahkan. Di sebuah daerah di Indonesia bagian Timur, terdapat rencana pemerintah untuk membangun industri besar yang justru mengorbankan tanah adat, lebih tepatnya hutan adat. Bagian menarik adalah perbedaan respons...

Mengapa Pola Konflik Politik di Indonesia Selalu Terulang?

Image
Pernah tidak kalian dianggap ketinggalan zaman karena suka belajar sejarah? Katanya, "Untuk apa belajar sejarah, toh zaman terus berubah." Memang benar manusia terus berkembang dan berubah, tetapi ada hal mendasar yang selalu sama yakni naluri manusia untuk berkuasa. Sejarah bukan cuma catatan masa lalu yang membosankan, tetapi lebih seperti laboratorium yang menunjukkan bagaimana manusia berperilaku dalam situasi tertentu. Terutama kalau kita bicara konflik politik di Indonesia, pola-pola yang terjadi di masa lalu bisa jadi petunjuk untuk memahami apa yang mungkin terjadi di masa depan. Coba kita lihat dua peristiwa besar dalam sejarah Indonesia seperti Demonstrasi Massa 1966 dan Reformasi 1998. Meski terjadi dengan jarak 32 tahun, keduanya punya pola yang mengejutkan mirip. Seperti menonton film remake, ceritanya sama tetapi aktornya beda. Kedua peristiwa ini dimulai dari krisis ekonomi yang bikin rakyat susah, mahasiswa turun ke jalan sebagai "suara hati nurani,"...

MERDEKA DAHULU, MENYESAL KEMUDIAN

Image
Saya baru saja membaca sebuah artikel yang menyindir kondisi ekonomi Timor Leste saat ini. Katanya, Timor Leste hanya mendapatkan kemerdekaan saja bukan kesejahteraan layaknya negara merdeka lainnya. Secara tersirat inti artikel tersebut mengatakan bahwa masyarakat Timor Leste akan hidup lebih baik, jika tidak memisahkan diri dari Indonesia. Di masa referendum tahun 1998, usia saya tidak lebih dari 4 tahun. Tetapi masih saya ingat gerutu bapak saya ketika mendengarkan berita bahwa hasil referendum memenangkan kemerdekaan bagi Timor Leste, katanya "makanya jangan bangun satu pulau saja. Kita punya Cendana, dong ambil buat kasi kaya dong pung diri, baru kas tinggal kita miskin melarat." Ternyata bapak saya menyindir negaranya sendiri, Indonesia. Tetapi tidak dengan mama saya yang merasa Timor Leste seharusnya tetap bersama Indonesia karena Timor Barat telah menjadi bagian dari Indonesia (Politik beda negara bisa jadi penghalang bagi hubungan saudara, mungkin itu maksud mama). S...