Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Thursday, September 4, 2025

Ketika Kekayaan Alam Menjadi Kutukan bagi Pendidikan


Pernahkah kamu memperhatikan fenomena yang tampak paradoksal yang mana daerah-daerah kaya akan sumber daya alam justru cenderung memiliki tingkat pendidikan yang rendah? Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah pola sistemik yang telah lama mengakar dalam dinamika pembangunan Indonesia, khususnya di wilayah timur negeri ini.


Ketika Pendidikan Menjadi "Ancaman" bagi Pembangunan Ekstraktif

Ada sebuah fenomena pembangunan yang mungkin jarang diperbincangkan atau dihindari karena sensitifitasnya. Bahkan dalam sebuah focus group discussion (FGD) yang saya ikuti dengan pemateri seorang peneliti sosial dari universitas tertentu yang sengaja tidak saya sebut karena rekomendasi mereka tampak tidak berpihak pada rakyat dengan mengungkapkan realitas yang menggelisahkan.


Di sebuah daerah di Indonesia bagian Timur, terdapat rencana pemerintah untuk membangun industri besar yang justru mengorbankan tanah adat, lebih tepatnya hutan adat. Bagian menarik adalah perbedaan respons dari dua wilayah yang berbeda. Ada kelompok masyarakat adat yang setuju karena percaya pemerintah hanya "meminjam" tanah mereka. Namun ada pula yang melawan dengan kritis karena menyadari bahwa dampak kerusakan lingkungan di masa depan jauh lebih merugikan ketimbang kompensasi yang akan diberikan pemerintah.


Pola yang terbentuk sangat mengejutkan, yakni mereka yang menerima adalah kelompok dengan latar pendidikan rendah (maksimal lulusan sekolah dasar), sementara yang menolak adalah mereka dengan pendidikan minimal SMA. Seorang peneliti dalam diskusi tersebut bahkan mengatakan bahwa pembangunan industri semakin mendapatkan perlawanan ketika masyarakatnya sudah dapat mengakses pendidikan dengan mudah. 


Bukankah ini seharusnya menjadi alarm? Para peneliti tersebut justru melewatkan esensi terpenting dari pembangunan di negara demokrasi yakni partisipasi rakyat dan perbaikan kebijakan pembangunan yang pro-rakyat serta pro-lingkungan.


Dari Kejayaan ke Kemunduran Pendidikan

Refleksi historis membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam yakni bagaimana mungkin suatu daerah yang pada zaman Hindia Belanda mampu menghasilkan pejabat-pejabat cakap dalam pemerintahan, justru mengalami penurunan drastis dalam persentase tingkat pendidikan pasca kemerdekaan? Sesuatu yang ironis ketika kemunduran ini bersamaan dengan masifnya pembangunan industri pertambangan di sekitar wilayah tersebut.


Fenomena ini bukanlah kebetulan belaka. Professor Bagus Muljadi telah mengidentifikasi adanya korelasi negatif antara Sumber Daya Alam (SDA) dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Di wilayah yang memiliki SDA tinggi, pendidikan masyarakatnya cenderung rendah. Dan ketika sumber daya alam tersebut habis, muncullah masalah sosial baru di mana rendahnya pendidikan membuat pilihan pekerjaan di luar sektor industri semakin sempit.


Membongkar Teori Resource Curse dalam Konteks Indonesia

Apa yang kita saksikan ini sejatinya merupakan manifestasi dari teori Resource Curse atau "kutukan sumber daya alam" yang dikembangkan oleh ekonom Richard Auty pada tahun 1993. Teori ini menjelaskan mengapa negara atau daerah yang kaya akan sumber daya alam justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang lambat dan pembangunan manusia yang tertinggal dibandingkan daerah yang miskin sumber daya alam.


Dalam konteks pendidikan, Resource Curse beroperasi melalui beberapa mekanisme. Pertama, ketersediaan sumber daya alam menciptakan ekonomi rente (rent-seeking economy) yang tidak memerlukan keterampilan tinggi. Mengapa harus bersekolah tinggi jika pekerjaan di sektor ekstraktif sudah tersedia dengan gaji yang relatif memadai? Kedua, pemerintah daerah yang mengandalkan pendapatan dari sumber daya alam cenderung mengabaikan investasi jangka panjang dalam pendidikan karena keuntungan jangka pendek dari eksplorasi sumber daya terasa lebih menggiurkan.


Teori Dutch Disease yang dikemukakan oleh ekonom W. Max Corden dan J. Peter Neary juga relevan untuk memahami fenomena ini. Ketika sektor ekstraktif mendominasi ekonomi, sektor lain termasuk pendidikan menjadi terabaikan. Sumber daya manusia dan modal mengalir ke sektor yang memberikan keuntungan cepat, sementara investasi dalam pendidikan yang memerlukan waktu puluhan tahun untuk menunjukkan hasil dianggap tidak prioritas.


Ketika Tumpulnya Pendidikan Menjadi "Keuntungan"

Mari kita jujur menghadapi realitas yang tidak nyaman ini, seperti apakah ada kepentingan tertentu yang diuntungkan oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di daerah kaya sumber daya alam? Teori political economy yang dikembangkan oleh Daron Acemoglu dan James Robinson dalam "Why Nations Fail" memberikan perspektif yang mencerahkan.


Institusi ekstraktif, menurut mereka, cenderung mempertahankan status quo yang menguntungkan elite tertentu. Masyarakat yang berpendidikan tinggi memiliki kapasitas untuk mempertanyakan kebijakan, menuntut transparansi, dan berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan. Sebaliknya, masyarakat dengan pendidikan rendah lebih mudah dimobilisasi dan dikontrol.


Bukti empiris dari FGD yang saya ikuti semakin memperkuat hipotesis ini. Ketika peneliti mengeluhkan bahwa pendidikan tinggi masyarakat menyulitkan pembangunan industri, bukankah ini secara tidak langsung mengakui bahwa ada preferensi terhadap masyarakat yang "tidak kritis"?


Teori Modal Sosial dan Degradasi Kepercayaan Komunitas

Pierre Bourdieu dan James Coleman melalui teori modal sosial (social capital) memberikan lensa analisis tambahan. Modal sosial mengacu pada jaringan hubungan sosial yang memungkinkan masyarakat berfungsi secara efektif melalui norma kepercayaan, kerjasama, dan partisipasi.


Dalam kasus yang saya amati, terjadi fragmentasi modal sosial yang berbahaya. Masyarakat terpecah menjadi dua kubu berdasarkan tingkat pendidikan, yang kemudian mempengaruhi sikap mereka terhadap pembangunan. Kelompok berpendidikan rendah cenderung memiliki kepercayaan tinggi (blind trust) terhadap otoritas pemerintah, sementara kelompok berpendidikan tinggi mengembangkan kepercayaan kritis (critical trust) yang berbasis pada analisis risiko-manfaat.


Robert Putnam dalam "Making Democracy Work" menjelaskan bahwa modal sosial yang sehat memerlukan keseimbangan antara kepercayaan dan kemampuan kritis. Ketimpangan pendidikan yang ekstrem justru merusak keseimbangan ini dan memperlemah kapasitas kolektif masyarakat dalam menghadapi perubahan.


Melihat Jebakan Pembangunan melalui Teori Dependency

Teori dependensi yang dikembangkan oleh Andre Gunder Frank dan kemudian disempurnakan oleh Fernando Henrique Cardoso memberikan perspektif struktural yang tidak boleh diabaikan. Dalam konteks Indonesia, daerah-daerah kaya sumber daya alam seringkali terjebak dalam relasi dependensi dengan pusat kekuasaan ekonomi dan politik.


Pola ini menciptakan apa yang Frank sebut sebagai "development of underdevelopment" yang mana pembangunan justru melanggengkan keterbelakangan. Investasi besar-besaran dalam sektor ekstraktif tidak disertai dengan pembangunan kapasitas manusia lokal, sehingga masyarakat tetap berada dalam posisi marginal sebagai penyedia tenaga kerja kasar.


Pendidikan, dalam konteks ini, justru dianggap sebagai "ancaman" karena dapat memutus rantai dependensi. Masyarakat yang berpendidikan memiliki kemampuan untuk mempertanyakan mengapa mereka hanya menjadi penonton dalam pembangunan di tanah mereka sendiri.


Konspirasi atau Konsekuensi Sistemik?

Pertanyaan yang menggantung adalah apakah yang kita saksikan ini merupakan hasil dari konspirasi terencana atau konsekuensi tidak terencana dari sistem yang cacat? FGD dan jurnal ilmiah yang pernah saya baca membuat saya melihat sisi gelap dari pembangunan yang mungkin lebih sistemik dari yang kita bayangkan.


Antonio Gramsci melalui konsep hegemoninya memberikan jawaban yang nuansatif. Hegemoni bukan sekadar dominasi melalui kekerasan, melainkan dominasi melalui konsensus yang diproduksi secara kultural dan ideologis. Ketika masyarakat "rela" memberikan tanah mereka dengan imbalan janji-janji pembangunan, apakah ini bukan bentuk hegemoni yang halus?


Michel Foucault dalam analisisnya tentang power/knowledge juga relevan di sini. Pengetahuan bukan sekadar informasi, melainkan kekuatan yang dapat membebaskan atau membelenggu. Ketika akses terhadap pendidikan berkualitas dibatasi, baik secara eksplisit maupun struktural maka yang terjadi adalah pembatasan terhadap kekuatan masyarakat untuk mempertanyakan dan mengubah kondisi mereka.


Menuju Pembangunan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Amartya Sen melalui pendekatan capability memberikan arah yang jelas, pembangunan sejati adalah pembangunan yang memperluas kemampuan dan kebebasan manusia untuk menjalani kehidupan yang mereka nilai.


Dalam konteks Indonesia, ini berarti kita perlu paradigma pembangunan yang tidak lagi melihat pendidikan dan kesadaran kritis masyarakat sebagai hambatan, melainkan sebagai prasyarat. Partisipasi masyarakat yang informed dan critical adalah jaminan bahwa pembangunan akan berkelanjutan dan berkeadilan.


Paulo Freire melalui pedagogi kritisnya mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah proses pemberdayaan yang memungkinkan masyarakat untuk "membaca dunia" mereka dan mengubahnya. Ketika masyarakat memiliki kemampuan untuk menganalisis secara kritis dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari sebuah proyek pembangunan, mereka tidak akan mudah termakan janji-janji kosong.


Sebagai penutup, mari kita renungkan bersama, apakah kita akan terus membiarkan paradoks ini berlanjut? Apakah kekayaan alam kita akan terus menjadi kutukan bagi pembangunan manusia yang bermartabat?


Jawaban atas pertanyaan ini ada di tangan kita semua. Sebagai akademisi, praktisi pembangunan, atau warga negara biasa, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pembangunan tidak lagi dipahami sebagai eksploitasi sumber daya yang mengabaikan manusia, melainkan sebagai proses peningkatan kualitas hidup yang berkelanjutan.


Korelasi kontradiktif antara SDA dan SDM bukanlah takdir yang tidak dapat diubah. Dengan political will yang kuat, kebijakan yang tepat, dan partisipasi masyarakat yang aktif, kutukan ini dapat dipatahkan. Saatnya kita menjadikan kekayaan alam sebagai modal untuk membangun manusia Indonesia yang cerdas, kritis, dan bermartabat.


Apakah kalian siap menjadi bagian dari perubahan ini?


Sunday, November 22, 2020

Kata Orang?

Saya marah pada masa lampau
Pada setiap keputusan yang didasari pada kebanggaan diri
Rasa takut pada fakta "apa kata orang nanti"
Hah.... Kata orang?
Mereka hanya berkata satu hari
Dua hari, tiga hari, empat hari
Dan paling lama satu bulan
Setelah itu mereka lupa
Lalu mencari topik lain yang dianggapnya terbaru

Kita mau saja menukar malu sebulan
Untuk apa?
Untuk menderita seumur hidup?
Umur kita tak bertahan lama
Tak mungkin sampai setengah abad
Lalu maukah kita habiskan untuk hidup
Menurut mulut-mulut yang tak tertutup

Setiap orang punya mulut untuk bicara
Tak ada pilihan lain, selain mendengarnya
Kita punya telinga, bukan?
Kita punya mulut untuk membela diri
Dan mereka punya telinga untuk mendengarkannya.

Saya muak pada hidup yang mengatas namakan "apa kata orang"


Friday, March 27, 2020

Sekadar kata

Terperangkap dalam rangkaian kata
dengan makna yang tak dapat menangkapmu
Dalam masa lalu

Aku tak berharap ini adalah jembatan
Tak pula rasa yang berbalas
Hanya sejenak mengingatmu
Ya... aku kini dan kamu yang lampau

Friday, October 4, 2019

Orasi dari Alun-alun

Siapa mewakili apa?
Apa mewakili siapa?
Mereka bilang mereka itu kalian
Dan kalian menolaknya
Kalian bilang kalian itu mereka
Dan mereka harus menerimanya

Jika bisa bercerita pada Gie
Dia bisa merasa jijik
Nasi yang sudah terlempar di pasir
Dihidangkan lagi dalam jamuan besar

Kalian yang berpengalaman
Mereka hanya anak ingusan
Yang mengajarkan
orasi di alun-alun

Thursday, October 3, 2019

KESOMBONGAN


Kesombongan yang pekat
Melekat pada setiap lidah
Dia hanya kepahitan dari ketulusan
Tak bisa terjahit di bibir manusia

Keyakinan bersatu pada tulang belulang
Begitu kuat tuk menopang
Sesumbar-sesumbar yang tersebar

Kebenaran tak lahir dari perdebatan
Kebenaran hanya sampai pada kebenaran
Tak lebih dari sekadar remah-remah
Jika Tuhan mau...
Jika Tuhan mau
Ditaruh-Nya sebongkah kebenaran
Di setiap lidah manusia

Dan sesadar-sadarnya Tuhan
Dia tahu ciptaan-Nya lemah
Akan satu kebenaran yang utuh
Bahkan malaikat bisa sombong
Dari kebenaran yang utuh

Thursday, September 26, 2019

BUNGKAM


Kau meniadakan sesuatu
Yang berjasa pada akalmu
Kau mengadakan sesuatu
Yang mengorbankan esensimu

Tetaplah di dalam kesunyianmu
Menguburkan setiap perbedaan
Remukan tulang-tulang keberanian
Tabur abunya di tumpukan buku

Berpura-puralah santai
Buang semua kebanggaan ini
Akan diskusi-diskusi
Pemikiranmu bukan hakmu lagi

Sunday, March 17, 2019

11 Januari

11 Januari
Wajah yang sama
Bercemin
Melihat adakah secuil kesalahan
Di mata sendiri

Ya, tetap sama
Raga ini tak berubah
Hanya jiwa ini tak akan sama
Cita-cita pun membelot

Hari depan tak akan sama
Tujuan ini seperti hilang
Mungkinkah Tuhan cemburu padanya
Karena dirinya yang pertama untukku
Atau mungkinkah aku terlalu jadi beban bagi pundaknya

11 Januari 2019
Saat dia berhenti bernafas
Aku pun berhenti berangan


Friday, February 15, 2019

SEKOLAH NE’GRI


SEKOLAH NE’GRI
Senang rasanya hatiku
Senyuman mulai menari di wajahku
Berbanggalah aku dengan diriku
Melihat hasil yang kubaca

Tak kubaca panjang lebar
Setiap kalimat yang bergantung di bawah
Berlari….berlari….berlari
Mungkin rasa lelah telah sukar menegurku

Emak….! Kau tahu?
Aku lolos di sekolah neg’ri
Lalu? Sahut emak
Tak disambutnya kalimat girangku

Sekolah Neg’ri?
Ingin tertawa aku mendengar kegiranganmu
Aku tak percaya kau senang digerogoti
Neg’ri katamu?
Kau senang berada di sana?
Murah? Hebat?
Skalian saja kau masuk swasta
Setidaknya mereka tak pernah menebarkan kebijakan
Dalam menjala uang

MELAYAT

 
Hidup hanyalah lelucon
saat kematianmu dibalut kesendirian
Dalam bayangan yang lemah


Tak ada rasa hilang dalam senyuman
seolah tak ada mayat yang sedang berbaring
tertawa seolah pesta sukacita di depan
kehidupan menertawakan kematian

lagu-lagu didendang seolah menghibur
mungkin hanya merobek dinginnya malam
yang masih bertahan sebelum fajar datang
Suara melengking dalam nyanyian semalaman
tangisan mengalir semenit tak sampai

Tuesday, July 10, 2018

SIA-SIA SAJA!


PERCUMA MAK

Mak, aku mau sekolah
SMA Negeri kataku
Nilaiku tak begitu jelek
Sekolah favorit ya mak

Tak perlu naik angkot
Tak perlu SPP tinggi
hanya perlu seragam, sepatu
Dan buku-buku

Tak mau aku masuk swasta
Takut emak tak sanggup
Jauh pula sekolahnya
Tak mau aku pusing dengan angkot

Emak, aku tak masuk
Tak dilihat nilai ujianku
Kata mereka tak ada orang dalam
Tak akan ada bangku untukku

Sudah aku bilang, aku ini miskin
Tak percaya mereka
Tak ada surat, tak diakui miskin
Percayalah mereka pada si kaya, yang punya surat

Aku marah pada  mereka
Aku cemburu pada si kaya
Kurang apa aku ini mak?
Sudah pintar, miskin,
tak jauh pula rumahku

Berhenti saja aku mak
Percuma aku berjuang
Tak dihargai juga perjuanganku
Percuma kubawa prestasiku
Kalau kantongku kering

Friday, May 11, 2018

MUDA

 MUDA

Duduklah sebentar lagi
Perjalanan pulang begitu jauh
mengapa terburu-buru?
nikmatilah matahari yang masih cerah

biarlah orang tua itu pulang
kau masih muda dan kuat
bujuk ibu padaku
sambil memelukku dalam doa

ahhh.... jika hari ini tugasku selesai
masa aku harus berlama-lama?
jika aku rindu pulang
apakah aku tak layak pulang?

matahari masih tinggi
langit masih cerah
tetapi buat apa menunggu?
jika hari senja tak mau datang padaku



Thursday, May 10, 2018

LIMA ABDI

LIMA ABDI

Penuh sesak dinding itu...
dibalik dinding itu ada sebuah amarah
Api diciptakan untuk membakar siapa saja
Yang mau memadamkannya.

Lima orang.... tidak tahu inilah akhir
dan awal dari bukti setia mereka
siapkah mereka?
jika malam ini mereka terpelungkup diam?
siapkah mereka?
Jika sebuah kata perpisahan tak sempat terucap

Ratusan kawan berjaga diluar
Berusaha mengulurkan tangan
Menahan hati kesetiakawanan
Kawan kau pun telah mengorbankan rasa sakit hatimu
Demi sumpah setiamu pada bangsa dan negara

Salam dan pelukan tak dapat disampaikan lagi
Mereka tertidur panjang dalam pengabdian
Air mata yang mengalir, sudah membasuh tumpahan darah mereka
Doa yang terucap telah meratakan jalan mereka
Untuk sampai kepada sang Jenderal Agung
Dengan kata-kata....
"Telah kami tunaikan pengabdian kami"




Hormat saya kepada para anggota Polisi yang gugur dalam peristiwa kerusuhan Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Mereka telah menyelesaikan pertandingan dan pembuktian pengabdian kepada bangsa dan negara. Mereka mungkin meninggal dengan cara yang sadis, tetapi kehormatan mereka telah berdiri tegak dalam ingatan anggota POLRI dan seluruh rakyat Indonesia. Mereka telah meninggalkan orang tua, saudara, istri dan anak-anak mereka tanpa salam perpisahan. Biarlah negara melanjutkan tanggung jawab mereka, agar rasa kehilangan itu tidak semakin berat.

Thursday, November 9, 2017

ANAK PEGAWAI



ANAK PEGAWAI

Bapak ibuku pegawai
Aku hidup dari uang negara
Aku makan beras milik negara
Aku menerima jajan dari bank pemerintah

Tak kuhitung jumlah keringat mereka
Toh! Mereka pegawai negeri
Aku hidup tanpa memikirkan hari esok
Sementara mereka berjuang mengkikirkan diri sendiri

Aku tak belajar menabung
Karena katanya ada pensiun
Aku tak belajar berhemat
Karena katanya bisa kredit pensiun nanti

Masa depanku sudah terlihat miskin
Aku seperti anak manja dalam perlombaan
Aku……. sudah kalah?
Tidak! aku masih berjuang menjadi mandiri


Saturday, September 16, 2017

KALIMAT KASIH



KALIMAT AGUNG

Dalam mata yang licik
Mungkin ada hati yang baik
Dalam kebaikan yang tulus
Mungkinkah terdapat utang yang kultus?

Hanya berdiri melihat kalimat agung
Tidak ada upah dalam kebaikan yang berbalas-balasan
Tidak ada kelebihan dalam kesetaraan
kita terperangkap dalam iming-iming

Dunia akan menolak kalimat agung itu
Mengapa sesulit ini?
Ya, karena kalimat itu sangat agung
Dan sulit dilakukan oleh dunia yang berdosa


Karhutla Kalimantan dari Bencana Ekologis Menjadi Ancaman Keamanan Nasional

Setiap musim kemarau, kita hampir selalu mendengar berita yang sama, yaitu kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Asap menutupi langit, se...