Posts

HARTA, TAKHTA, dan SGM

Image
Perancis kembali menggegerkan warga internasional, melalui pernyataan Emmanuel Macron yang dinilai menghina umat Muslim. Pernyataan ini berawal dari kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pelajar kepada gurunya yang dianggap telah menghina Nabi Muhammad SAW melalui pembuatan karikatur sang Nabi. Diakui bahwa umat muslim tidak mungkin berkompromi dengan penghinaan seperti itu, karena merupakan tindakan penghujatan terhadap Nabi yang merupakan utusan Tuhan. Tetapi sayangnya, hal ini terbentur oleh sekularisme Perancis yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Untuk Negara-negara di benua Asia, kebebasan semacam itu bukanlah sesuatu yang dipandang baik, terutama umat Muslim. Kebebasan yang sebebas-bebasnya justru akan memicu konflik antar kelompok jika tidak ada batasan.  Gelombang protes terhadap pernyataan Macron mengalir dari berbagai negara di dunia, terutama negara dengan penduduk muslim mayoritas seperti Timur Tengah, Indonesia, Pakistan, dam lain-lain. Seb...

MAAF, ANDA SALAH SERVER

Image
Bagaimana cara membuat anak Anda tertarik untuk belajar? Berhubung saya belum memiliki anak, maka saya akan membagikan opini saya sebagai seorang anak yang pernah bersekolah. Lagipula banyak blogger yang membagikan tips dan trik membuat anak tertarik untuk belajar melalui sudut pandang orang tua. Bisa saya akui bahwa orang tua saya tidak biasa memaksakan anak-anaknya untuk belajar di rumah. Menurut mereka rumah adalah tempat beristirahat dari semua rasa lelah akan aktivitas, belajar hanya di sekolah. Masa kecil (TK - Kelas 3 SD) saya terlalu santai dibandingkan teman-teman saya dalam hal belajar. Ketika waktu menunjukkan pukul 19.00 WITA maka saya akan mendengarkan suara teman saya sedang diajari membaca oleh orang tuanya. "N A? NA! S I? SI! Dibaca? Nasi!" Kira-kira begitulah kata-kata yang masih saya ingat. Saya merasa lucu karena teman saya disuruh mengulangi ejaan tersebut hingga lancar. Di saat mereka sedang "diteror" untuk belajar, saya sendiri seda...

MERDEKA DAHULU, MENYESAL KEMUDIAN

Image
Saya baru saja membaca sebuah artikel yang menyindir kondisi ekonomi Timor Leste saat ini. Katanya, Timor Leste hanya mendapatkan kemerdekaan saja bukan kesejahteraan layaknya negara merdeka lainnya. Secara tersirat inti artikel tersebut mengatakan bahwa masyarakat Timor Leste akan hidup lebih baik, jika tidak memisahkan diri dari Indonesia. Di masa referendum tahun 1998, usia saya tidak lebih dari 4 tahun. Tetapi masih saya ingat gerutu bapak saya ketika mendengarkan berita bahwa hasil referendum memenangkan kemerdekaan bagi Timor Leste, katanya "makanya jangan bangun satu pulau saja. Kita punya Cendana, dong ambil buat kasi kaya dong pung diri, baru kas tinggal kita miskin melarat." Ternyata bapak saya menyindir negaranya sendiri, Indonesia. Tetapi tidak dengan mama saya yang merasa Timor Leste seharusnya tetap bersama Indonesia karena Timor Barat telah menjadi bagian dari Indonesia (Politik beda negara bisa jadi penghalang bagi hubungan saudara, mungkin itu maksud mama). S...

TIMBUL DAN TENGGELAM BERSAMA RAKYAT, BUKAN GOLONGAN

Image
Sepertinya aura penolakan Omnibus Law belum juga hilang dari pemberitaan media massa, beberapa tokoh di luar pemerintah atau mungkin pernah berada di pemerintahan seperti sedang membentuk kubu pro dan kubu kontra dalam pandangan mereka tentang UU Cipta Kerja. Tetapi ada satu tokoh yang menarik perhatian saya sejak dia menjabat sebagai "orang pertama" di Tentara Nasional Indonesia. Saya akui beliau memiliki kharisma yang luar biasa sebagai seorang pemimpin di awal kepemimpinannya di TNI. Seperti kita ketahui bahwa kebanyakan Jenderal TNI jarang menyampaikan pendapat pribadinya secara terbuka di media massa tapi sewaktu masih Aktif di TNI, beliau secara terang-terangan menyampaikan kekhawatirannya tentang kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan secara berkala melakukan kunjungan ke Pesantren, Masjid dan Organisasi keagamaan lainnya. Mungkin ada benarnya juga mengingat sejarah antara Organisasi Islam dan PKI sering bertikai secara terbuka di masa Orde Lama, se...

OMNIBUS LAW : JEBAKAN LITERASI DAN OPINI

Image
Sudah lebih dari seminggu masyarakat Indonesia memperbincangkan Undang-undang Cipta Kerja a.k.a Omnibus Law. Ribuan demonstran turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi penolakan terhadap pemberlakuan Omnibuslaw, mulai dari perwakilan buruh pekerja, mahasiswa, hingga pelajar Sekolah Menengah Kejuruan. Pemerintah dan badan legislatif sepertinya tetap kukuh mengesahkan undang-undang cipta kerja dengan dalih bahwa Indonesia merupakan salah satu negara minim investor karena terlalu berbelit-belit dalam birokrasi. Suara para demonstran tidak lagi penting bagi pemerintah, dengan alasan bahwa aksi demonstrasi ini sudah ditunggangi kepentingan tertentu, katanya kepentingan politik dari oposisi (secara tersirat). Ditambah lagi ada kejadian ditemukannya ambulan pembawa batu dalam demo tolak UU cipta kerja, yang belum diketahui siapa pemiliknya. Menurut saya jika pelakunya sama seperti waktu demo besar sebelumnya maka orang yang merencanakan "chaos" tersebut cukup bodoh atau...

STASIUN TV TANPA HARAPAN

Image
  Entah kenapa saya Kembali lagi menceritakan sedikit peristiwa yang terjadi di sekitar saya, atau tepatnya pengalaman teman-teman saya Ketika sedang melamar kerja. Kejadian ini terjadi di tanggal 27 Agustus 2020, saat itu melalui akun grup WA salah seorang teman membagikan info lowongan kerja (loker) di salah satu stasiun tv di daerah kami, diantara 20 anggota grup, hanya 4 orang saja yang begitu antusias untuk melamar di stasiun tv tersebut, apalagi kami juga jurusan komunikasi jadi bekerja di stasiun tv merupakan hal yang kami impikan. Keesokan hari Saya diajak oleh teman saya untuk sama-sama memasukan lamaran  di stasiun TV tersebut, mengingat waktu pendaftaran dibuka selama dua hari saja. Kebetulan waktu itu, saya tidak bisa memasukan lamaran di stasiun tv tersebut karena sedang ada panggilan tes di salah satu distributor kendaraan sehingga saya merencanakan akan mengantarkan lamaran di stasiun tv pada jam 3 sore. Saat sedang menunggu antrian tes, salah seoran...

Indonesia : Mendekap Federasi dengan Nyanyian Kesatuan

Image
Sekitar 9 hari yang lalu, saya menonton film tentang Soekarno (saya lupa judul pastinya). Secara keseluruhan saya tidak terlalu tertarik karena serasa kembali membaca buku sejarah tetapi ada satu scene yang membuat saya tercengang karena scene ini tidak pernah ditulis di dalam buku mata pelajaran sejarah yang pernah saya pelajari di sekolah. Scene yang menampilkan keraguan Bung Hatta akan kemampuan negara baru seperti Indonesia dalam mengelolah seluruh wilayah kedaulatannya. Ditambah lagi dengan bacaan dari website Historia  yang menjabarkan bahwa Bung Hatta menolak untuk memasukkan wilayah Papua ke dalam kekuasaan Indonesia karena mengingat bahwa Papua memiliki perbedaan kultural yang begitu jauh dengan wilayah Indonesia lainnya. Bung Hatta khawatir karena memprediksi bahwa suatu saat akan ada kesenjangan sosial di antara sesama warga negara Indonesia terutama di tanah Papua. Lalu Bung Hatta juga pernah mengusulkan bentuk negara Indonesia menjadi Federasi atau serikat ...