Posts

STANDAR KETAMPANAN : Budaya tidak menentukan

Image
Jujur saja di dunia ini tidak ada pria yang menganggap dirinya jelek. Berbeda dengan wanita, para pria memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Jika wanita akan merasa iri dengan kecantikan wanita lain atau pria “cantik”, maka para pria justru merasa bahwa diri mereka jauh lebih tampan dari pria lain. Seperti tulisan saya beberapa minggu yang lalu,  standar kecantikan yang ditentukan oleh budaya, kira-kira bagaimana dengan standar kegantengan ya? Apakah ditentukan oleh budaya juga? Simak ulasan berikut ini : Amerika Serikat Salah satu kiblat fashion dunia ini memiliki standar kegantengan yang mereka terapkan dan sebarkan melalui media massa (Film, Serial Televisi dan lain-lain). Pria ganteng itu harus 2 kriteria seperti memiliki tubuh atletis ( berotot gitulah… ), dan memiliki cambang (a.k.a berewokan rapi) ditambah lagi berpenampilan metroseksual ( peduli sama penampilan, minimal bersihlah ). Jika di antara kalian ada yang memiliki kriteria di atas maka selamat kalian ma...

Nilai Bahasa Indonesia kamu 100? Seharusnya kamu bangga...

Image
Bahasa Indonesia : Kebanggan terakhir di Dunia Pendidikan Indonesia Nilai Bahasa Indonesia kamu 100? Seharusnya kamu bangga. Kenapa? Itu membuktikan kalau kamu adalah orang cerdas (Ingat ya Cerdas, bukan hanya pintar). Kan aneh kalau setiap hari berkomunikasi dengan bahasa Indonesia tapi masih saja gagal mendapatkan nilai 100 di ujiannya. Ya, bahasa Indonesia memang sedang berada di bawah mata pelajaran MIPA. Jarang ada orang tua yang bangga jika anaknya mendapatkan nilai 100 dalam mata pelajaran   Bahasa Indonesia. Yang dilihat pertama kali oleh orang tua saat melihat nilai raport anaknya pasti mata pelajaran MIPA atau bahasa Asing (Inggris, Jerman, Jepang, Cina dan lain-lain), kalau nilainya menurun pasti si anak akan ditegur berulang kali. Nah, kalau nilai bahasa Indonesianya rendah, tapi mata pelajaran lainnya tinggi, si anak pasti dipuji. “Kamu pintar nak. Mama bangga sama kamu!” (Nilai MIPA dan bahasa Asing tinggi, nilai bahasa Indonesia rendah) “Otakmu di m...

(A)THEISME : Perdebatan tanpa akhir

Image
Sewaktu di SMA (Jurusan Bahasa), guru Antropologi saya pernah bertanya kepada anak-anak kelas 11 Bahasa “ Mengapa Atheisme sulit bertumbuh di Indonesia? ” untuk taraf anak SMA, pertanyaan seperti ini cukup membuat kami mengalami sakit kepala mendadak, atheisme sejauh yang kami ketahui artinya tidak percaya Tuhan . Soal berkembang atau tidak, pemikiran kami belum sampai pada taraf itu. Serentak kami sekelas menjawab tidak tahu. Guru saya lalu memberikan jawabannya “ Karena Pancasila. Selama Indonesia masih berideologikan Pancasila maka Atheisme tidak bisa tumbuh dengan bebas. Sila pertama Indonesia ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi masyarakat harus sadar dan percaya bahwa ada Kekuatan yang luar biasa yang mengatur kehidupan manusia dan kekuatan itu kita sebut dengan Tuhan Yang Maha Esa. ” Semoga pengantar itu tidak   membawa kita jauh dari pembahasan yang sebenarnya tentang theism dan atheisme. Pembahasan ini lebih menitik-beratkan kepada pendapat saya sebagai seorang...

Konsentrasi Komunikasi Antar Budaya, ada?

Komunikasi Lintas/Antarbudaya (Cross Cultural Communication) tidak banyak yang tahu tentang konsentrasi ini selain mahasiswa Jurusan ilmu komunikasi, Universitas Nusa Cendana (Undana).   Ya, memang di Kupang ada dua jurusan ilmu komunikasi, satunya di Undana dan lainnya di universitas Widya Mandira (Unwira). Untuk wilayah Nusa Tenggara Timur, Ilmu komunikasi lebih banyak dikenal melalui konsentrasi Jurnalistik dan Hubungan Masyarakat, maka tidak mengherankan ketika mencari kerja anak KAB (sebutan untuk mahasiswa konsentrasi antarbudaya) sering ditanya-tanya tentang  konsentrasinya oleh para pencari tenaga kerja. Pernah saya ditanyai tentang konsentrasi antarbudaya, belum sempat saya jawab, sudah bergulir saja kalimat “ Oh… jadi nanti kalian belajar bahasa daerah dari berbagai daerah di NTT? ” atau “ Bahasa daerah apa yang sudah kalian kuasai? ”   (pertanyaan ke-2 itu yang paling menjengkelkan).  Alih-alih paham, justru konsentrasi Komunikasi Antarbudaya di...